Apakah makna kata bersifat tetap, atau apakah makna kata hanya merujuk satu sama lain dalam pencarian tanpa akhir akan definisi? Jacques Derrida, filsuf Prancis yang dikenal sebagai bapak dekonstruksi, menantang gagasan bahwa kata-kata memiliki makna yang tetap dan independen. Baginya, makna adalah hasil dari perbedaan dan penundaan (difference dan deferral), yang ia sebut dengan istilah différance.
Gagasan ini memiliki implikasi luas terhadap pemahaman kita tentang kebenaran, identitas, gender, dan ras. Jika makna selalu bergantung pada hubungan antar kata dan terus menerus tertunda, maka bagaimana kita bisa mengklaim bahwa suatu konsep, seperti “maskulinitas” atau “kebangsaan,” memiliki definisi yang tetap dan universal?
Dalam Course in General Linguistics (1912), Ferdinand de Saussure menyatakan bahwa “dalam bahasa, tidak ada makna positif, hanya perbedaan.” Artinya, kita memahami makna sebuah kata bukan karena kata itu memiliki substansi intrinsik, tetapi karena perbedaannya dengan kata lain.
Sebagai contoh, kita tahu bahwa “berhenti”berarti menghentikan gerakan karena berbeda dengan “jalan”, yang menandakan kelanjutan pergerakan. Makna “berhenti” hanya bisa dipahami dalam hubungannya dengan “jalan.”
Namun, jika makna sebuah kata hanya dapat ditentukan berdasarkan hubungannya dengan kata lain, maka apakah ada makna yang benar-benar mandiri? Derrida berargumen bahwa makna selalu tertunda—karena dalam upaya mendefinisikan sesuatu, kita selalu bergantung pada kata-kata lain, yang pada gilirannya juga perlu didefinisikan.
Bagaimana kita memahami bahwa lampu merah berarti berhenti? Apakah makna ini melekat secara alami pada warna merah itu sendiri, ataukah ia hanya memiliki makna karena adanya lampu hijau dan lampu kuning? Jika kita menganalisis sistem rambu lalu lintas melalui lensa dekonstruksi Derrida, kita akan menemukan bahwa makna dalam bahasa (dan dalam sistem tanda secara umum) tidak pernah hadir secara utuh dan mandiri. Makna selalu bersandar pada perbedaan dengan tanda-tanda lain serta mengalami penundaan yang terus menerus.
Ketika kita mengemudi dan melihat lampu merah menyala, kita segera memahami bahwa kita harus berhenti. Namun, pemahaman ini tidak muncul dari warna merah itu sendiri, melainkan dari hubungannya dengan warna lain dalam sistem yang sama.
Bayangkan jika hanya ada lampu merah tanpa lampu hijau dan lampu kuning. Dalam konteks seperti itu, apakah kita masih bisa memahami bahwa merah berarti berhenti? Jika tidak ada perbedaan dengan tanda lain, maka makna merah menjadi kabur. Justru karena kita mengetahui bahwa lampu hijau berarti maju, maka kita bisa memahami bahwa lampu merah berarti berhenti.
Konsep ini mencerminkan gagasan Ferdinand de Saussure tentang bahasa sebagai sistem perbedaan—suatu tanda hanya memiliki makna karena keberadaannya dalam jaringan tanda-tanda lain. Dalam konteks rambu lalu lintas, merah hanya bermakna sebagai tanda berhenti karena adanya perbedaan dengan hijau (jalan) dan kuning (waspada).
Derrida berargumen bahwa makna tidak pernah hadir sepenuhnya dalam suatu tanda, tetapi selalu bergantung pada ketidakhadiran tanda-tanda lain. Dengan kata lain, kita memahami lampu merah bukan hanya karena lampu merah itu ada, tetapi juga karena lampu hijau dan lampu kuning tidak ada dalam saat yang bersamaan.
Misalnya, ketika kita berhenti di lampu merah, kita tidak hanya melihat warna merah, tetapi juga secara tidak sadar menyadari bahwa lampu hijau tidak sedang menyala. Artinya, lampu hijau yang tidak ada tetap memainkan peran dalam pemaknaan kita terhadap lampu merah. Ini yang disebut Derrida sebagai “jejak” (trace)—kehadiran makna selalu mengandung jejak dari apa yang tidak hadir.
Bayangkan jika suatu hari, pemerintah memutuskan untuk mengganti sistem lampu lalu lintas dengan warna yang berbeda—misalnya, biru untuk berhenti dan kuning untuk jalan. Kita akan membutuhkan waktu untuk membiasakan diri karena makna baru ini masih membawa jejak dari sistem lama.
Dengan kata lain, makna lampu lalu lintas tidak inheren dalam warna-warna itu sendiri, melainkan dibentuk oleh sistem tanda yang saling bergantung satu sama lain.
Konsep ketiga yang penting dalam dekonstruksi adalah penundaan makna (deferral). Makna tidak pernah sepenuhnya hadir dalam satu tanda saja, tetapi selalu tertunda, bergantung pada konteks dan interaksi dengan tanda lain.
Contohnya adalah lampu kuning. Apa arti dari lampu kuning?
Di beberapa negara, lampu kuning berarti hati-hati, memperingatkan pengemudi bahwa lampu akan segera berubah menjadi merah. Di negara lain, lampu kuning bisa berarti bersiap untuk melaju, jika lampu hijau akan segera menyala. Dalam beberapa situasi, lampu kuning bahkan bisa memiliki makna ganda, tergantung pada konteksnya—boleh lanjut jika sudah melewati garis, tetapi harus berhenti jika belum melewati garis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makna lampu kuning tidak bersifat final atau mutlak, tetapi selalu bergantung pada faktor lain—seperti aturan lalu lintas di suatu negara, kecepatan mobil saat itu, atau bahkan interpretasi individu dari pengemudi.
Dalam filsafat Derrida, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada makna yang pernah hadir sepenuhnya dalam suatu tanda. Makna selalu tertunda karena ia bergantung pada tanda-tanda lain yang ada dalam sistem.
Dalam filsafat Barat, ada kecenderungan untuk menganggap bahasa lisan sebagai bentuk ekspresi yang paling otentik dibandingkan dengan tulisan. Aristoteles, misalnya, berpendapat bahwa “kata-kata lisan adalah simbol dari pengalaman mental, sementara kata-kata tertulis hanyalah simbol dari kata-kata lisan.”
Derrida menentang gagasan ini, yang ia sebut sebagai logocentrisme—keyakinan bahwa bahasa lisan lebih dekat dengan kebenaran dibanding bahasa tulisan. Ia berargumen bahwa tidak ada makna yang sepenuhnya hadir dalam bentuk apapun, baik dalam ucapan maupun tulisan, karena setiap kata bergantung pada kata lain untuk memperoleh maknanya.
Bagaimana gagasan Derrida tentang dekonstruksi dan différance bisa diterapkan dalam diskusi tentang gender?
Dalam iklan cokelat Yorkie tahun 2002, perempuan harus menyamar sebagai pria untuk membeli cokelat dengan slogan “It’s NOT for girls” (“Ini BUKAN untuk perempuan”). Iklan ini mengandalkan stereotip bahwa pria dan wanita adalah dua kategori yang saling bertentangan. Maskulinitas dihadirkan sebagai sesuatu yang eksklusif bagi pria, sementara feminitas harus tetap terpisah dari segala sesuatu yang dianggap “laki-laki.”
Namun, jika kita menerapkan dekonstruksi, kita bisa melihat bahwa maskulinitas hanya memiliki makna karena perbedaannya dengan feminitas. Tidak ada esensi tetap yang mendefinisikan seseorang sebagai “pria” atau “wanita”—karena konsep tersebut selalu bergantung pada perbedaan dan konvensi sosial yang terus berubah.
Sebaliknya, iklan parfum CK One (1994) menolak biner gender dengan menampilkan model dari berbagai identitas gender. Hal ini menunjukkan bagaimana dekonstruksi dapat membuka ruang bagi pemahaman gender yang lebih inklusif dan cair.
Seperti halnya gender, ras dan etnisitas juga bukan kategori tetap.
Selama era kolonialisme, Eropa menggambarkan dirinya sebagai rasional, maju, dan beradab, sementara masyarakat di luar Eropa digambarkan sebagai primitif dan tidak rasional. Konsep ini dikenal sebagai Othering, di mana Barat (the Self) didefinisikan melalui perbedaannya dengan Timur (the Other). Gayatri Chakravorty Spivak, dalam karyanya Can the Subaltern Speak?, menjelaskan bagaimana identitas kolonial tidak pernah berdiri sendiri tetapi selalu bergantung pada representasi “yang lain.”
Dekonstruksi mengungkapkan bahwa “Eropa maju” hanya dapat eksis sebagai konsep karena adanya “dunia terbelakang.” Artinya, superioritas Eropa tidak inheren, tetapi bergantung pada konstruksi sosial dan bahasa yang terus berubah.
Jacques Derrida sering disalahpahami sebagai seorang filsuf yang hanya ingin “menghancurkan makna.” Padahal, dekonstruksi bukan tentang merusak, melainkan mengungkap asumsi-asumsi tersembunyi dalam bahasa, budaya, dan filsafat.
Dengan memahami différance, kita menjadi sadar bahwa tidak ada konsep yang benar-benar tetap atau universal. Identitas, gender, dan kebenaran selalu merupakan hasil dari sistem tanda yang terus berubah.
Seperti yang Derrida sendiri katakan: “Dekonstruksi tidak menghancurkan struktur dari luar.”
Sebaliknya, dekonstruksi adalah cara berpikir kritis yang memungkinkan kita untuk mempertanyakan apa yang tampak alami atau mutlak, sehingga kita bisa lebih memahami bagaimana makna dan kekuasaan beroperasi dalam masyarakat.
Dekonstruksi mengajarkan kita bahwa tidak ada makna yang benar-benar tetap. Semua yang kita anggap “pasti” sebenarnya hanya hasil dari sistem tanda yang terus bergerak. Dunia tidak terdiri dari definisi-definisi yang kaku, tetapi dari jaringan makna yang selalu dapat dipertanyakan dan ditafsirkan kembali.
Jadi, apakah kata-kata memiliki makna yang stabil? Derrida akan menjawab: Makna tidak pernah hadir sepenuhnya. Ia selalu tertunda, dan kita terus mencari.