Oleh: Vellysha Febby Archella (Pembaca Aktif, Pemerhati Film)
Kembalinya The Summer I Turned Pretty melalui musim ketiganya menandai pergeseran penting dalam arah cerita serial ini. Jika dua musim sebelumnya masih kental dengan romansa remaja dan gejolak perasaan khas masa transisi, season terbaru justru menghadirkan narasi yang lebih tenang, reflektif, dan emosional. Serial adaptasi novel karya Jenny Han ini tampak sengaja membawa penontonnya tumbuh bersama para karakter, meninggalkan romantisasi cinta remaja yang sederhana menuju pemahaman relasi yang lebih kompleks dan realistis.
Musim panas yang selalu menjadi latar ikonik serial ini tetap hadir dengan pantai, cahaya matahari, dan nuansa hangat yang menenangkan. Namun, suasana tersebut kini memiliki makna berbeda. Keindahan visual tidak lagi sekadar menjadi simbol kebahagiaan, melainkan ruang kontemplatif bagi karakter untuk berdamai dengan luka, kenangan, dan pilihan hidup. Season 3 membuka cerita dengan nuansa yang lebih sunyi, seolah memberi isyarat bahwa konflik kali ini tidak akan meledak secara dramatis, melainkan mengendap di dalam batin.
Belly Conklin menjadi pusat perubahan paling terasa. Ia tidak lagi digambarkan sebagai remaja yang terombang-ambing oleh perasaan dan ketertarikan sesaat. Dalam season ini, Belly tampil lebih reflektif dan berhati-hati. Ia mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya ia butuhkan dalam sebuah hubungan, bukan sekadar apa yang ia inginkan. Proses ini menjadikan perjalanan Belly lebih dekat dengan pengalaman banyak penonton muda yang mulai menyadari bahwa cinta bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal pertumbuhan dan tanggung jawab emosional.
Konflik Belly dengan masa lalunya juga menjadi benang merah penting. Luka yang ia bawa dari musim sebelumnya tidak diselesaikan secara instan. Serial ini memberi ruang bagi proses penyembuhan yang lambat dan tidak selalu nyaman. Dalam banyak adegan, Belly tampak memilih diam, merenung, dan menimbang konsekuensi dari setiap keputusan. Pendekatan ini membuat karakternya terasa lebih manusiawi dan tidak terjebak dalam klise drama remaja.
Perkembangan signifikan juga terlihat pada Conrad Fisher. Selama ini ia dikenal sebagai karakter tertutup, emosional, dan sulit ditebak. Season 3 memperlihatkan Conrad yang mulai berani menghadapi dirinya sendiri. Ia tidak sepenuhnya berubah menjadi sosok yang stabil, tetapi justru di situlah kekuatannya. Kerentanannya ditampilkan secara jujur, tanpa upaya menjadikannya pahlawan romantis yang sempurna. Conrad belajar bahwa mencintai berarti berani berkomunikasi, meski risiko kehilangan tetap ada.
Sementara itu, Jeremiah Fisher hadir dengan kedewasaan yang lebih matang. Karakter yang sebelumnya dikenal ceria dan impulsif kini tampil lebih tenang dan pengertian. Jeremiah memahami bahwa cinta tidak selalu harus berujung pada kepemilikan. Ia memberi ruang bagi Belly untuk mengenali perasaannya sendiri, sebuah sikap yang jarang ditemui dalam representasi cinta segitiga. Pendekatan ini memperkaya dinamika cerita dan menghindarkan serial dari konflik yang repetitif.
Season ketiga juga memperluas fokus pada dinamika keluarga dan persahabatan. Bayang-bayang kehilangan Susannah masih memengaruhi keluarga Fisher dan cara mereka membangun relasi satu sama lain. Duka yang tidak pernah benar-benar selesai menjadi latar emosional yang membentuk pilihan Conrad dan Jeremiah. Relasi antar karakter tidak lagi dibangun semata melalui dialog romantis, tetapi juga melalui keheningan, jarak, dan upaya memahami perubahan.
Secara visual, The Summer I Turned Pretty tetap mempertahankan estetika lembut yang menjadi ciri khasnya. Namun ritme pengambilan gambar terasa lebih pelan, memberi ruang bagi ekspresi dan emosi untuk berbicara. Musik dan sinematografi bekerja sebagai pendukung suasana batin, bukan sekadar pemanis cerita. Pendekatan ini membuat penonton lebih terlibat secara emosional.
Musim ketiga menunjukkan bahwa serial ini telah beranjak dari kisah cinta musim panas menuju cerita coming-of-age yang lebih utuh. Pertanyaan tentang pilihan, kehilangan, dan kedewasaan menjadi inti narasi. The Summer I Turned Pretty tidak lagi hanya mengajak penonton untuk memilih siapa yang pantas dicintai, tetapi juga merenungkan bagaimana seseorang belajar mencintai dengan lebih sadar dan jujur.





