Oleh: Nike Puzwandari (Pemerhati Studi Linguistik dan Sastra)
Nama Ferdinand de Saussure kerap disebut sebagai titik awal linguistik modern. Namun, pengaruhnya tidak berhenti pada studi bahasa semata. Gagasan-gagasannya membentuk cara berpikir baru tentang bahasa, pengetahuan, dan kebudayaan pada abad ke-20. Melalui kuliah-kuliahnya di Universitas Geneva antara 1907–1911, yang kemudian dibukukan secara pascakematian sebagai Cours de linguistique générale pada 1916, Saussure memperkenalkan kerangka konseptual yang menggeser linguistik dari pendekatan empiris menuju analisis sistemik.
Inti pemikiran Saussure terletak pada upayanya mendefinisikan objek kajian linguistik secara tegas. Ia menolak pandangan positivistik yang melihat bahasa hanya sebagai kumpulan fakta ujaran. Bagi Saussure, bahasa harus dipahami sebagai sistem internal yang hidup dalam kesadaran kolektif penuturnya. Ia membedakan antara la langue, yakni sistem bahasa yang bersifat abstrak dan sosial, dengan la parole, yakni praktik ujaran yang konkret dan individual. Pembedaan ini bukan sekadar teknis, melainkan filosofis. Dengan memusatkan perhatian pada la langue, Saussure menempatkan bahasa sebagai struktur yang memiliki hukum internalnya sendiri, terlepas dari variasi pemakaian sehari-hari.
Prinsip penting lain yang ia kemukakan adalah sifat arbitrer tanda bahasa. Hubungan antara bentuk bunyi dan makna tidak ditentukan oleh hubungan alamiah, melainkan oleh konvensi sosial. Konsep ini menegaskan bahwa makna lahir dari relasi antartanda dalam sistem, bukan dari referensi langsung pada dunia luar. Dari sini muncul pandangan struktural tentang bahasa, yakni bahasa dipahami sebagai jaringan relasi, bukan sebagai daftar kata yang berdiri sendiri.
Saussure juga memperkenalkan pembedaan antara sinkroni dan diakroni. Kajian sinkronis menelaah bahasa sebagai sistem pada satu titik waktu tertentu, sementara kajian diakronis mempelajari perubahan bahasa sepanjang sejarah. Dengan pembedaan ini, Saussure menegaskan bahwa memahami struktur bahasa pada suatu masa tidak harus selalu bergantung pada penjelasan historisnya. Gagasan ini kelak menjadi dasar metodologis bagi lahirnya linguistik struktural Eropa.
Dari pemikiran Saussure, berkembang berbagai aliran strukturalisme yang dipelopori tokoh-tokoh seperti Roman Jakobson, Émile Benveniste, dan Louis Hjelmslev. Pengaruhnya bahkan meluas ke Amerika melalui Leonard Bloomfield dan Edward Sapir. Lebih jauh lagi, pendekatan struktural merembes ke disiplin lain seperti antropologi, kajian sastra, hingga psikologi. Bahasa, dalam kerangka ini, menjadi model untuk memahami sistem-sistem makna lain dalam kebudayaan.
Namun, warisan Saussure tidak luput dari kritik. Sejak akhir 1960-an, strukturalisme dipersoalkan karena dianggap terlalu menekankan sistem dan mengabaikan subjek, sejarah, serta dinamika kekuasaan. Kritik dari pemikir seperti Jacques Derrida dan Michel Foucault membuka kembali pertanyaan tentang stabilitas makna dan klaim objektivitas struktur. Pada saat yang sama, ditemukannya catatan-catatan pribadi Saussure menimbulkan perdebatan tentang keotentikan Cours de linguistique générale, karena buku tersebut disusun oleh murid-muridnya berdasarkan catatan kuliah, bukan ditulis langsung oleh Saussure.
Meski demikian, penting dicatat bahwa Saussure bukan hanya filsuf bahasa. Karier akademiknya bermula dari studi tata bahasa perbandingan bahasa Indo-Eropa. Karyanya tentang sistem vokal Proto-Indo-Eropa pada 1879 diakui sebagai terobosan besar dan memengaruhi linguistik historis selama puluhan tahun. Penelitian-penelitian akhirnya tentang anagram, meski kontroversial, menunjukkan keluasan minat intelektualnya yang melampaui batas disiplin.
Pengaruh Saussure justru terletak pada daya tahan gagasannya. Bahkan teori yang mengaku menentang strukturalisme, seperti tata bahasa generatif Noam Chomsky, tetap mewarisi asumsi dasar tentang bahasa sebagai sistem internal yang bersifat mental. Ini menunjukkan bahwa Saussure bukan sekadar figur sejarah, melainkan pemikir yang terus hadir dalam perdebatan kontemporer.
Dalam konteks ini, Saussure layak dibaca bukan sebagai dogma, melainkan sebagai undangan untuk berpikir kritis tentang bahasa. Ia mengajarkan bahwa bahasa bukan cermin pasif realitas, melainkan struktur aktif yang membentuk cara manusia memahami dunia. Itulah warisan terpenting Saussure bagi linguistik dan ilmu-ilmu kemanusiaan secara luas.





