Oleh: Prayoga Arya Saputra (Pemerhati isu kekuasaan dan sinema)
Ada sesuatu yang mengganggu saat kita menonton Snowpiercer (2013). Bukan sekadar kereta yang terus melaju mengelilingi bumi beku, tetapi bagaimana film ini memvisualisasikan kekuasaan yang bekerja secara halus, sistemik, dan menyeluruh. Dari tempat duduk, jatah makanan, hingga waktu untuk berbicara dan bergerak, semua dikendalikan oleh aturan yang tak bisa ditawar. Di balik cerita fiksi ilmiah ini, Snowpiercer adalah cermin sosial yang tajam: tentang bagaimana kekuasaan mengatur hidup manusia hingga pada detail paling kecil dan bagaimana manusia bisa terbiasa menerima ketidakadilan itu sebagai hal yang “normal”.
Kereta dalam film ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan metafora dunia. Di bagian buntut, manusia hidup dalam kegelapan, kelaparan, dan ketertindasan; sementara di bagian depan, elit menikmati kemewahan dan kendali penuh atas sistem. Film ini menunjukkan bahwa ketimpangan itu tidak terjadi begitu saja. Ia dibentuk dan dipelihara oleh sistem kekuasaan yang meresap ke dalam kesadaran. Seperti dikatakan Michel Foucault (1978), kekuasaan tidak hanya memaksa lewat represi, tapi juga membentuk cara berpikir, bertindak, bahkan cara seseorang melihat tempatnya di dunia. Dalam Snowpiercer, penindasan menjadi kebiasaan yang diterima tanpa banyak tanya.
Yang membuat film ini menggugah adalah cara ia menunjukkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Kekuasaan justru bekerja paling efektif ketika ia tersembunyi dalam sistem. Setiap gerbong dalam kereta menjadi simbol dari struktur sosial: siapa yang boleh berbicara, siapa yang dianggap penting, dan siapa yang harus tetap berada di belakang. Segalanya dirancang agar manusia merasa bahwa posisinya adalah takdir, bukan konstruksi.
Namun, seperti dalam sejarah manusia, selalu ada titik di mana ketakutan kalah oleh kebutuhan akan martabat. Curtis dan kelompoknya bergerak ke depan bukan semata demi makanan yang lebih baik, tetapi demi sesuatu yang lebih mendasar: pengakuan akan kemanusiaan. Perlawanan mereka bukan sekadar revolusi fisik, melainkan pencarian makna dan kebebasan. Dalam dunia yang seluruh aturannya ditentukan dari atas, pemberontakan menjadi bentuk paling jujur dari rasa ingin hidup sebagai manusia utuh.
Semakin mereka maju, semakin jelas bahwa sistem di dalam kereta berdiri di atas ilusi: sebuah keseimbangan palsu yang dijaga dengan manipulasi dan kebohongan. Sekali lagi, Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan hanya bertahan selama orang-orang patuh. Snowpiercer memperlihatkan betapa sulitnya menghancurkan sistem yang telah lama dianggap sebagai “keniscayaan,” bahkan ketika sistem itu menyakiti banyak orang.
Akhir film ini pahit sekaligus membuka harapan. Ketika struktur kekuasaan runtuh, yang tersisa adalah ketidakpastian. Namun, dari ketidakpastian itulah kemungkinan baru muncul. Snowpiercer mengajak kita untuk merenung: bagaimana jika dunia kita juga berjalan di atas rel yang sama dengan struktur kekuasaan yang disembunyikan dalam aturan, kebiasaan, dan apa yang kita anggap sebagai “tradisi”? Di manakah posisi kita sebenarnya: di depan, di belakang, atau di tengah tanpa sadar?
Film ini mengingatkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan bukan sesuatu yang jauh. Ia hadir dalam cara orang dikendalikan, dibatasi, bahkan dibungkam. Namun, selama masih ada keberanian untuk bertanya, mempertanyakan, dan bergerak, akan selalu ada harapan untuk perubahan meski harus dimulai dari satu gerbong ke gerbong berikutnya.





