Retakan Cinta dan Sunyi yang Menutup Dunia

Bagikan

Oleh: Poppy Dwidia Gustanti (Pemerhati Sastra dan Puisi)

Puisi kerap menjadi ruang paling jujur untuk menyuarakan luka. Ia tidak menawarkan solusi, tidak pula menenangkan dengan janji-janji manis, melainkan menghadirkan perasaan apa adanya. Dalam puisi berjudul cemetery dari kumpulan The Sun and Her Flowers, Rupi Kaur menulis patah hati bukan sebagai peristiwa romantis, melainkan sebagai keruntuhan batin yang sunyi, intens, dan nyaris tak terkendali. Puisi ini memperlihatkan bagaimana cinta yang berakhir dapat mengubah cara seseorang memandang diri, ruang, dan dunia di sekitarnya.

Sejak larik awal, pembaca langsung dihadapkan pada kehancuran emosional. “on the last day of love / my heart cracked inside my body” bukan sekadar ungkapan metaforis, melainkan penegasan bahwa luka emosional diperlakukan setara dengan luka fisik. Patah hati tidak ditempatkan sebagai perasaan yang abstrak, tetapi sebagai pengalaman tubuh. Dengan sudut pandang orang pertama, Kaur membawa pembaca masuk ke dalam kepala dan perasaan tokoh lirisnya, membuat kesedihan terasa intim dan nyaris tak berjarak.

Nada puisi ini gelap dan muram, diperkuat oleh citra-citra domestik yang berubah makna. Rumah, yang biasanya diasosiasikan dengan kehangatan, justru menjadi ruang isolasi. Ketika tokoh menutup pintu dengan handuk, menyingkirkan cahaya, dan menarik seluruh tirai, pembaca menyaksikan proses penarikan diri dari dunia luar. Kesedihan tidak hanya dialami secara batin, tetapi juga diatur secara fisik melalui ruang. Puisi ini menunjukkan bahwa duka mampu mengubah rumah menjadi kuburan, sebuah tempat yang sunyi, tertutup, dan beku.

Simbol bunga menjadi salah satu citra paling mengganggu dalam puisi ini. Buket bunga terakhir dari kekasih yang telah layu tidak disimpan sebagai kenangan manis, melainkan dihancurkan dan dimakan. Tindakan ini terasa ekstrem, bahkan brutal. Namun, di situlah kekuatan puisi Kaur bekerja. Bunga yang biasanya melambangkan cinta dan keindahan berubah menjadi simbol relasi yang membusuk. Tindakan “memakan” bunga dapat dibaca sebagai upaya putus asa untuk menginternalisasi kenangan, sebuah bentuk coping yang destruktif, lahir dari trauma emosional yang belum terselesaikan.

Puisi ini juga dapat dibaca sebagai refleksi tentang penindasan emosional terhadap perempuan dalam relasi intim. Tidak ada kekerasan fisik yang eksplisit, tetapi dampak psikologis dari relasi yang timpang terlihat jelas. Tokoh perempuan kehilangan kontrol, suara, dan keberanian untuk membuka diri pada dunia. Ia mengusir udara dan cahaya, dua elemen dasar kehidupan, seolah ingin menghentikan arus waktu. Dalam konteks ini, penderitaan perempuan tidak hadir sebagai jeritan, melainkan sebagai keheningan yang menyesakkan.

Pilihan diksi Kaur sederhana, bahkan terkesan polos. Kata-kata seperti “flowers”, “vase”, “door”, “curtain”, dan “light” adalah benda sehari-hari. Namun, justru kesederhanaan ini yang memungkinkan lapisan makna simbolik bekerja dengan kuat. “Casting spells” tidak dimaksudkan secara harfiah, melainkan menggambarkan keputusasaan seseorang yang ingin memutar ulang masa lalu. “Wilting” menandai cinta yang sekarat, sementara “my heart cracked” menjadi metafora yang lugas namun menghantam.

Figurasi bahasa dalam puisi ini memperdalam pengalaman emosional. Personifikasi pada udara dan cahaya mencerminkan ilusi kontrol di tengah kekacauan batin. Hiperbola pada usaha “sepanjang malam” menegaskan obsesi untuk memperbaiki sesuatu yang sudah runtuh. Semua perangkat ini tidak berdiri sendiri, melainkan membangun lanskap emosional yang konsisten: dunia yang mengecil, gelap, dan terkurung oleh duka.

The Sun and Her Flowers, melalui puisi cemetery, menggambarkan potret duka yang jujur dan tidak ditata agar indah. Kaur tidak berusaha menghibur, tetapi mengakui bahwa patah hati bisa merusak keseimbangan jiwa dan identitas seseorang. Citra bunga mati, pintu tertutup, dan cahaya yang diusir menunjukkan bahwa kehilangan bukan hanya soal berpisah dengan seseorang, tetapi juga tentang kehilangan diri sendiri untuk sementara waktu. Dalam keheningan itulah puisi ini berbicara paling lantang.

Artikel terkait
Terkini
Follow us