Oleh: Nayada Hanaviyah Azzikra (Pemerhati Karya Sastra dan Film Studies)
Film Penyalin Cahaya karya Wregas Bhanuteja tidak menawarkan hiburan yang nyaman. Sejak awal, film ini menempatkan penonton pada posisi yang gelisah: menyaksikan bagaimana seorang korban kekerasan seksual justru harus berjuang sendirian menghadapi sistem yang seharusnya melindunginya. Alih-alih berfokus pada sensasi kejahatan, Penyalin Cahaya memilih jalur yang lebih sunyi namun menghantam dan menggambarkan betapa rumit dan menyakitkannya mencari kebenaran di tengah institusi yang timpang.
Tokoh utama Sur digambarkan sebagai mahasiswa yang hidupnya berubah drastis hanya dalam hitungan menit. Ketika foto-foto dirinya dalam kondisi mabuk menyebar, institusi kampus segera mencabut beasiswanya tanpa proses klarifikasi yang layak. Keputusan instan ini mencerminkan persoalan yang lebih besar: bagaimana lembaga sering kali lebih sibuk menjaga citra moral dan reputasi daripada keselamatan individu. Sur dihukum sebelum kebenaran dicari, sebuah pola yang kerap muncul dalam kasus kekerasan seksual di dunia nyata
Film ini dengan tajam menyoroti budaya menyalahkan korban. Sur tidak diposisikan sebagai seseorang yang perlu didengarkan, melainkan sebagai subjek yang dicurigai. Standar moral diterapkan secara timpang, terutama terhadap perempuan. Tubuh, perilaku, dan reputasi perempuan dinilai lebih keras, sementara relasi kuasa yang melingkupi peristiwa kekerasan sering kali diabaikan. Penyalin Cahaya tidak menyampaikan kritik ini secara verbal, tetapi melalui rangkaian peristiwa yang terasa dingin dan sistematis.
Adegan pesta teater menjadi titik penting dalam narasi. Sur berada dalam kondisi tidak sadar dan tidak mampu memberikan persetujuan. Namun, film ini menegaskan bahwa kekerasan seksual tidak pernah berdiri sendiri. Ada relasi kuasa, hierarki usia, dan dominasi sosial yang membuat korban sulit menolak atau melawan. Di sinilah film ini bekerja sebagai satire sosial: kekerasan tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi difasilitasi oleh budaya yang membiarkannya terjadi
Proses pencarian kebenaran digambarkan sebagai jalan yang panjang dan melelahkan. Bersama Amin, Sur berusaha menelusuri bukti melalui mesin fotokopi. Cahaya dan mesin penyalin menjadi simbol utama film ini, upaya mereproduksi fakta dan menyebarkan kebenaran. Namun, simbol ini juga ironis. Bukti dapat disalin berkali-kali, tetapi kebenaran tidak serta-merta diakui oleh sistem. Untuk mengungkap apa yang terjadi, Sur harus mempertaruhkan kesehatan mental, masa depan akademik, dan posisi sosialnya
Film ini juga mengkritik bagaimana suara korban kerap dianggap tidak sah karena tidak memenuhi standar bukti formal. Ketika Sur mencoba berbicara, pengalamannya diperlakukan seolah tidak cukup kuat. Institusi lebih sibuk melindungi mereka yang berkuasa daripada mendengar korban. Dalam konteks ini, patriarki tidak hadir sebagai sosok tunggal, melainkan sebagai sistem, aturan, norma, dan kebijakan yang secara kolektif membungkam perempuan
Menariknya, Penyalin Cahaya tidak menutup cerita dengan keadilan yang sepenuhnya memuaskan. Kebenaran memang terungkap, tetapi luka Sur tidak serta-merta sembuh. Pilihan naratif ini terasa jujur. Film ini menolak fantasi penyelesaian instan, karena dalam banyak kasus nyata, keadilan datang terlambat atau bahkan tidak pernah benar-benar hadir. Dampak psikologis, sosial, dan akademik telah lebih dulu menghancurkan hidup korban.
Sebagai karya sinema, Penyalin Cahaya bekerja efektif karena keberaniannya menempatkan sistem sebagai terdakwa utama. Film ini menegaskan bahwa persoalan terbesar dalam kekerasan seksual bukan hanya pelaku, melainkan struktur yang gagal melindungi dan justru menyalahkan korban. Dengan pendekatan yang realistis dan tanpa melodrama berlebihan, Penyalin Cahaya menjadi cermin yang memaksa penonton bertanya: seberapa adil sistem yang selama ini kita anggap benar?





