Jacques Derrida dikenal sebagai pemikir yang menggoyahkan keyakinan lama tentang makna, kebenaran, dan bahasa. Melalui gagasan dekontruksi, ia mengajak pembaca untuk bersikap curiga terhadap apa pun yang tampak stabil dan mapan. Bagi Derrida, bahasa bukanlah wadah bening yang menampung pikiran, melainkan medan permainan tanda yang selalu bergerak dan saling menunda makna.
Pijakan awal pemikiran Derrida dapat ditelusuri pada kritiknya terhadap cara filsafat Barat memahami struktur. Sejak lama, struktur dipahami selalu memiliki pusat, entah berupa kebenaran, esensi, Tuhan, kesadaran, atau subjek. Pusat ini berfungsi sebagai penjamin makna dan keteraturan. Derrida menunjukkan bahwa keberadaan pusat justru bertentangan dengan sifat struktur itu sendiri. Jika pusat benar-benar tetap dan mutlak, maka permainan relasi dalam struktur akan berhenti. Kenyataannya, makna terus bergerak, berubah, dan tidak pernah sepenuhnya hadir.
Kritik ini mencapai bentuk yang tajam dalam esainya “Structure, Sign, and Play in the Human Sciences”. Derrida menyoroti kecenderungan metafisik filsafat Barat yang selalu mencari titik asal dan kepastian. Ia menyebut kecenderungan ini sebagai logocentrisme, yakni hasrat untuk menempatkan logos, kata, atau rasio sebagai sumber kehadiran penuh makna. Dalam tradisi ini, ujaran lisan dianggap lebih murni daripada tulisan, karena diyakini lebih dekat dengan pikiran penutur.
Derrida membalik asumsi tersebut. Ia menunjukkan bahwa tulisan bukanlah salinan sekunder dari ujaran, melainkan kondisi yang memungkinkan bahasa bekerja. Di sinilah muncul konsep différance, istilah kunci yang memadukan dua makna sekaligus: perbedaan dan penundaan. Makna sebuah tanda lahir karena perbedaannya dari tanda lain, dan sekaligus selalu tertunda karena bergantung pada tanda-tanda berikutnya. Tidak ada makna yang hadir secara utuh dan final.
Konsep différance menyingkap bahwa setiap upaya mencari makna tunggal akan berujung pada jejak tanda lain. Kamus, misalnya, tidak pernah memberi definisi akhir. Ia hanya mengarahkan pembaca ke kata lain, lalu ke kata berikutnya, dalam rantai tanpa ujung. Dengan demikian, bahasa bekerja melalui penundaan terus-menerus. Makna tidak lenyap, tetapi juga tidak pernah selesai.
Dalam kerangka ini, dekontruksi bukanlah tindakan menghancurkan teks. Ia adalah praktik membaca yang teliti dan sabar, yang berusaha menemukan ketegangan internal dalam teks. Derrida menunjukkan bahwa teks sering kali menggoyahkan klaimnya sendiri. Di balik oposisi biner seperti baik dan buruk, alam dan budaya, lisan dan tulisan, selalu ada hierarki yang mengistimewakan satu pihak. Dekontruksi menyingkap hierarki ini, lalu memperlihatkan bagaimana pihak yang dianggap sekunder justru menjadi syarat bagi yang utama.
Contoh yang sering dibahas Derrida adalah konsep “suplemen”. Sesuatu yang disebut suplemen tampak sebagai tambahan yang tidak esensial. Namun, ketika diamati lebih jauh, suplemen justru mengisi kekosongan yang tidak pernah diakui. Tulisan disebut suplemen ujaran, tetapi ujaran sendiri tidak pernah utuh tanpa sistem tanda yang memungkinkan pengulangan dan pemahaman. Dengan cara ini, yang dianggap tambahan mengambil alih posisi penting.
Pemikiran Derrida juga beririsan dengan teori tindak tutur. Ia mempertanyakan anggapan bahwa makna ujaran sepenuhnya ditentukan oleh konteks asli dan niat penutur. Menurut Derrida, tanda selalu dapat diulang dalam konteks lain. Kemampuan untuk diulang inilah yang membuat bahasa berfungsi, sekaligus membuat makna tidak pernah sepenuhnya terkunci. Setiap ujaran membawa kemungkinan untuk dibaca secara berbeda.
Implikasi dekontruksi terasa luas, terutama dalam kajian sastra dan budaya. Teks sastra tidak lagi dipahami sebagai wadah pesan tunggal dari pengarang, melainkan ruang permainan makna. Pembacaan menjadi aktivitas produktif, bukan sekadar pencarian maksud asli. Dalam dunia sosial, dekontruksi mengingatkan bahwa konsep identitas, kebenaran, dan norma selalu dibangun melalui bahasa yang tidak netral.
Pemikiran Derrida kerap dianggap rumit dan provokatif. Namun, kekuatannya justru terletak pada sikap kritis yang ditawarkannya. Ia mengajak pembaca untuk tidak mudah percaya pada pusat, fondasi, atau klaim final. Dengan membaca secara dekontruktif, kita belajar hidup dalam ketidakpastian yang produktif, di mana makna tidak dipaksakan untuk berhenti, tetapi dibiarkan bergerak dan membuka kemungkinan baru.