Ketika Puisi Menemukan Nadanya

Bagikan

Oleh: Pupu Pauziah (Mahasiswi Sastra Inggris UNPAM)

Puisi sering kali hadir dalam kesunyian. Ia dibaca perlahan, direnungkan di sela-sela waktu, dan dinikmati dalam dialog batin antara teks dan pembacanya. Namun, ketika puisi dipertemukan dengan musik, pengalaman itu berubah. Kata-kata tidak lagi sekadar dibaca, melainkan dihidupkan. Larik-larik menemukan iramanya, dan makna bergerak mengikuti alunan nada. Pengalaman inilah yang saya rasakan saat menyaksikan musikalisasi puisi Elegi Nada Sendu karya Sasmitra

Puisi Elegi Nada Sendu memuat perenungan mendalam tentang penyesalan, kesedihan, dan doa. Bahasa yang digunakan lembut, tidak berteriak, tetapi justru menghunjam melalui ketenangannya. Dalam versi teks, puisi ini mengajak pembaca berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan berdamai dengan perasaan-perasaan yang kerap tak terucap. Ketika puisi tersebut dimusikalisasi dan dipentaskan, ruang perenungan itu meluas tidak lagi hanya personal, tetapi juga kolektif.

Musikalisasi Elegi Nada Sendu menghadirkan suasana yang hening dan sendu sejak awal pertunjukan. Alunan musik yang mengiringi pembacaan puisi tidak berlebihan. Ia tidak menutupi kata, tetapi justru menopangnya. Nada-nada dimainkan dengan tempo lambat, seolah memberi waktu bagi setiap larik untuk bernapas. Dalam konteks ini, musik berfungsi sebagai medium emosional yang menuntun pendengar memasuki dunia batin penyair.

Ketika puisi dilantunkan, penghayatan pembaca terasa kuat. Diksi yang sebenarnya sederhana menjadi sarat makna karena disampaikan dengan intonasi dan tekanan yang tepat. Ada jeda-jeda yang dibiarkan menggantung, memberi ruang bagi emosi untuk meresap. Pada momen-momen tertentu, musik dan suara menyatu begitu padu, menciptakan suasana reflektif yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Secara personal, menyaksikan pertunjukan ini menjadi pengalaman estetik yang berkesan. Saya merasakan merinding, bahkan hampir menitikkan air mata, terutama pada bagian-bagian puisi yang dibacakan dengan penghayatan mendalam. Pada titik itu, puisi tidak lagi sekadar teks sastra, melainkan pengalaman emosional yang hidup. Kesedihan, kerinduan, dan harapan tidak hanya dipahami, tetapi benar-benar dirasakan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa musikalisasi puisi bukan sekadar upaya memperindah karya sastra, melainkan sebuah bentuk tafsir artistik. Musik membantu memperluas kemungkinan makna tanpa harus mengubah kata-kata aslinya. Dalam Elegi Nada Sendu, musik menjadi jembatan antara bahasa dan perasaan, antara penyair dan audiens.

Di tengah perkembangan media digital dan seni pertunjukan, musikalisasi puisi juga membuka peluang baru bagi sastra untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Puisi yang mungkin terasa “berat” atau “sunyi” bagi sebagian orang, menjadi lebih mudah diakses ketika dipadukan dengan musik. Kehadiran Elegi Nada Sendu di panggung pertunjukan, sekaligus di media sosial dan platform musik digital, menunjukkan bahwa puisi dapat hidup di berbagai ruang tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Lebih dari itu, musikalisasi puisi mengingatkan kita bahwa sastra bukan hanya milik halaman buku. Ia dapat hadir dalam suara, nada, dan pengalaman bersama. Dalam masyarakat yang serba cepat, di mana perhatian mudah teralihkan, pertunjukan seperti Elegi Nada Sendu menawarkan jeda. Ia mengajak kita melambat, mendengar, dan merasakan.

Musikalisasi Elegi Nada Sendu membuktikan bahwa puisi memiliki daya hidup yang lentur. Ketika diberi napas oleh musik, puisi tidak kehilangan jiwanya, justru menemukan cara baru untuk menyentuh manusia. Dan di situlah kekuatan sastra bekerja, menghubungkan kata, nada, dan perasaan dalam satu pengalaman yang utuh.

Artikel terkait
Terkini
Follow us