Oleh: Irsyaad Wicaksono (Pemerhati Manga dan Budaya Populer)
Dalam lanskap sastra populer kontemporer, sedikit kreator yang mampu mengguncang kebiasaan membaca seperti Tatsuki Fujimoto. Karya-karyanya tidak sekadar menghadirkan kejutan atau kekerasan visual, tetapi menawarkan cara bercerita yang ganjil, absurd, dan pada saat yang sama, emosional. Popularitas Chainsaw Man, Fire Punch, hingga film antologi animasi Tatsuki Fujimoto 17-26 menandai satu hal: pembaca dan penonton hari ini semakin tertarik pada cerita yang berani keluar dari pakem, menabrak konvensi, dan tidak takut tampak “aneh”.
Tatsuki Fujimoto 17–26 memperlihatkan dunia imajinasi Fujimoto dalam bentuk yang lebih telanjang. Adaptasi ini tidak mencoba menertibkan atau menjinakkan idenya, melainkan justru menegaskan keunikan cara berpikir sang kreator. Sejak awal, terasa bahwa Fujimoto tidak beroperasi dalam ruang imajinasi yang sama dengan kebanyakan mangaka. Ia bergerak bebas, nyaris tanpa pagar, seolah tidak tertarik untuk menyenangkan selera umum. Yang ia kejar adalah kejujuran imajinatif, apa adanya, liar, dan tak jarang membuat penonton tidak nyaman.
Dua kata kunci yang paling menonjol dari karya-karya Fujimoto adalah keberanian dan kebebasan. Ia tidak ragu memperlakukan tubuh manusia sebagai “instrumen naratif”. Bentuk fisik, relasi antartokoh, bahkan emosi ekstrem dipelintir sedemikian rupa untuk menghasilkan situasi yang janggal dan sering kali mengejutkan. Namun, kekejangan ini bukanlah kekejaman kosong. Fujimoto tampak seperti sedang “bermain” dengan ekspektasi pembaca, membongkar norma, lalu menyusunnya kembali dalam bentuk yang tidak sopan, tidak rapi, tetapi jujur.
Penggambaran tubuh dan relasi manusia yang ekstrem itu mencerminkan kegelisahan sosial manusia modern. Dalam dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan relasi yang rapuh, manusia sering kehilangan rasa kemanusiaannya sendiri. Fujimoto menangkap absurditas itu dan menampilkannya dalam bentuk yang hiperbolik. Kekerasan, keterasingan, dan kekacauan emosional bukan sekadar sensasi visual, melainkan metafora atas kondisi psikologis masyarakat kontemporer yang terus bergulat dengan makna hidup.
Menariknya, di balik kebebasan liar tersebut, Fujimoto selalu menyisakan ruang untuk cinta. Di tengah darah, kegilaan, dan humor gelap, selalu ada kebutuhan dasar manusia untuk dicintai dan diakui. Dalam Chainsaw Man, cinta hadir sebagai hasrat yang polos dan nyaris memalukan. Dalam Fire Punch, cinta menjelma menjadi obsesi yang menghancurkan. Sementara dalam Tatsuki Fujimoto 17–26, cinta muncul sebagai denyut emosional yang menahan cerita agar tidak sepenuhnya runtuh dalam absurditas.
Di titik inilah Fujimoto berbeda dari banyak kreator lain. Ia tidak menempatkan cinta sebagai sesuatu yang manis atau ideal. Cinta baginya sering kali canggung, tidak seimbang, bahkan menyakitkan. Namun, justru karena itulah cinta terasa manusiawi. Fujimoto seakan percaya bahwa seaneh apa pun dunia yang ia bangun, cerita tetap harus berpijak pada emosi paling dasar: keinginan untuk terhubung dengan orang lain.
Kebebasan kreatif Fujimoto juga menantang posisi pembaca. Ia tidak menawarkan kenyamanan, tidak memberi penjelasan berlebihan, dan tidak selalu menutup cerita dengan resolusi yang memuaskan. Pembaca dipaksa ikut berenang di lautan imajinasinya, menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan dijawab. Dalam konteks sastra populer, pendekatan ini terasa segar. Ia menolak formula, menolak kepastian, dan justru merayakan ketidakpastian sebagai pengalaman estetis.
Tatsuki Fujimoto 17–26 ini memperlihatkan bahwa absurditas bukanlah kebalikan dari makna. Di tangan Fujimoto, absurditas justru menjadi cara untuk membicarakan cinta, kesepian, dan kemanusiaan secara lebih jujur. Di era ketika cerita sering dipoles agar aman dan mudah dicerna, Fujimoto memilih jalan berisiko dan di situlah kekuatan karyanya bekerja. Ia mengingatkan bahwa sastra populer masih bisa menjadi ruang eksperimentasi, tempat emosi paling liar dan paling tulus bertemu.




