Membaca Palestina melalui The Land of Sad Oranges

Bagikan

Oleh: Nurlaila (Pemerhati Sastra Timur Tengah)

Cerita pendek kerap bekerja dengan cara yang sederhana namun menghantam. Ia tidak memerlukan panggung luas atau tokoh berlimpah untuk menyampaikan kebenaran. Dalam The Land of Sad Oranges, Ghassan Kanafani menuliskan luka Palestina bukan melalui slogan atau retorika politik, melainkan lewat pengalaman sebuah keluarga yang terusir dari Jaffa setelah Nakba 1948. Dari kisah yang ringkas itu, pembaca diajak menyaksikan runtuhnya rumah, masa kanak-kanak, dan rasa memiliki, semuanya diikat oleh simbol sederhana: jeruk Jaffa yang manis, kini terasa pahit.

Cerita ini diceritakan dari sudut pandang seorang anak laki-laki “the boy” yang awalnya mengira perpindahan keluarganya hanyalah sementara, seperti libur sekolah. Kepolosan ini menjadi pintu masuk Kanafani untuk memperlihatkan bagaimana peristiwa sejarah besar merobek kehidupan sehari-hari secara perlahan. Anak-anak, yang semestinya terlindungi dari beban dunia, justru menjadi saksi paling jujur atas kehilangan. Ketika kenyataan menampakkan wajahnya, si anak menyadari bahwa masa kecilnya telah direnggut dan digantikan oleh tragedi yang tak pernah ia pilih.

Perubahan paling mencolok terjadi pada sosok ayah. Dari figur yang teguh, ia terjerembap dalam kesedihan yang menekan. Depresi ayah bukan sekadar emosi personal, melainkan representasi kehancuran akar hidup: tanah, pekerjaan, dan martabat. Ibu, di sisi lain, memikul beban sunyi, menguatkan keluarga sambil menahan duka. Kanafani menulis pergeseran ini dengan ekonomi kata yang tajam; setiap detail kecil terasa memikul sejarah yang besar.

Simbol jeruk Jaffa menjadi inti emosional cerita. Jeruk bukan sekadar hasil bumi; ia adalah identitas, ingatan, dan janji hidup yang kini terputus. Ketika jeruk-jeruk itu ditinggalkan, yang tertinggal bukan hanya kebun, melainkan rasa memiliki yang tak tergantikan. Melalui simbol ini, Kanafani mengubah tragedi personal menjadi kesaksian kolektif tentang bagaimana pengusiran memutus hubungan manusia dengan tanahnya, dan bagaimana ingatan menjadi bentuk perlawanan paling sunyi.

Kekuatan The Land of Sad Oranges terletak pada kemampuannya mengundang empati tanpa memaksa. Pembaca tidak diajak untuk sekadar mengetahui sejarah, tetapi merasakan dampaknya. Duka hadir dalam jeda, dalam keheningan, dalam kesadaran yang datang terlambat. Di sinilah sastra bekerja paling efektif: ia menembus statistik dan pernyataan politik, menyentuh wilayah kemanusiaan yang paling rapuh.

Relevansi cerita ini terasa hingga hari ini. Lebih dari tujuh dekade berlalu, pengalaman pengungsian dan kehilangan rumah masih membentuk kehidupan jutaan warga Palestina. Kunci-kunci rumah yang disimpan, cerita yang diwariskan, dan ingatan yang dijaga, semuanya menemukan gema dalam kisah Kanafani. Tulisannya menjadi arsip moral, menjaga memori agar tidak terhapus oleh waktu atau kekuasaan.

Membaca Kanafani juga berarti menimbang peran sastra sebagai penyangga kemanusiaan. Ia tidak menawarkan solusi instan atau akhir yang menghibur. Yang ia berikan adalah kejujuran emosional bahwa penderitaan nyata tidak selalu rapi, dan pemulihan jarang datang cepat. Namun, dengan mengabadikan pengalaman itu, sastra memberi ruang bagi pengakuan dan martabat.

The Land of Sad Oranges mengajak kita melihat Palestina bukan sebagai tajuk berita, melainkan sebagai rumah yang hilang, keluarga yang tercerai, dan anak-anak yang tumbuh terlalu cepat. Cerita ini mengingatkan bahwa konflik selalu berbiaya manusia dan bahwa empati, yang dibangunkan oleh sastra, adalah langkah pertama untuk memahami. Di tengah dunia yang mudah lupa, Kanafani menulis agar ingatan tetap hidup, dan kemanusiaan tidak padam.

Artikel terkait
Terkini
Follow us