Oleh: Destalita Rafni Azzakiya (Pemerhati Representasi Budaya)
Di tengah deretan kisah pahlawan super yang didominasi konflik kosmik dan pertarungan berskala besar, Ms. Marvel hadir dengan pendekatan yang berbeda. Serial produksi Marvel Studios ini tidak semata-mata berbicara tentang kekuatan super, melainkan tentang identitas, keluarga, dan perjuangan melawan stereotip. Melalui tokoh Kamala Khan, Ms. Marvel menawarkan representasi yang lebih manusiawi terhadap komunitas Muslim dan Asia Selatan, kelompok yang selama ini kerap digambarkan secara sempit dalam media Barat.
Selama bertahun-tahun, karakter Muslim dalam film dan serial televisi sering kali terjebak pada pola yang sama: ekstremis, teroris, atau figur religius yang kaku dan menekan. Ms. Marvel secara sadar membongkar gambaran tersebut. Kamala digambarkan sebagai remaja biasa dengan kegemaran menggambar, mengidolakan Avengers, dan berusaha menemukan tempatnya di dunia. Ia bukan simbol, melainkan individu dengan keunikan dan kegelisahan khas usia remaja.
Salah satu kekuatan utama serial ini terletak pada penggambaran ruang komunitas Muslim. Masjid, misalnya, tidak disajikan sebagai ruang tertutup dan menakutkan, tetapi sebagai tempat berkumpul yang hangat dan penuh interaksi sosial. Adegan-adegan di masjid memperlihatkan humor, diskusi, dan dinamika generasi yang akrab, sebuah potret yang jarang muncul dalam representasi arus utama. Dengan cara ini, Ms. Marvel menggeser sudut pandang penonton dari prasangka menuju kedekatan.
Keluarga Kamala juga ditampilkan dengan kedalaman emosional yang kuat. Orang tuanya memang memiliki kekhawatiran terhadap keselamatan dan masa depan anaknya, tetapi kekhawatiran itu tidak lahir dari fanatisme, melainkan dari cinta. Mereka adalah orang tua imigran yang berusaha menjaga nilai budaya sembari memberi ruang bagi mimpi anaknya. Representasi ini penting karena menantang stereotip “orang tua Muslim yang terlalu ketat” dan menggantinya dengan gambaran yang lebih realistis dan empatik.
Serial ini juga tidak menghindari isu sensitif seperti profiling rasial. Kehadiran Department of Damage Control (DODC) yang mencurigai masjid dan komunitas Muslim mencerminkan pengalaman nyata banyak warga Muslim di Amerika Serikat pasca-9/11. Kecurigaan sistemik dan pengawasan berlebihan digambarkan sebagai ancaman nyata, bukan hanya bagi Kamala sebagai pahlawan super, tetapi bagi komunitasnya sebagai warga negara. Dengan memasukkan elemen ini, Ms. Marvel menegaskan bahwa stereotip tidak berhenti pada level narasi, melainkan dapat berujung pada tindakan diskriminatif.
Kamala Khan sendiri menjadi simbol perlawanan paling efektif terhadap stereotip. Ia ceria, kreatif, dan penuh imajinasi. Ia menulis fan fiction, menggambar, dan mengekspresikan diri melalui seni. Karakterisasi ini mematahkan asumsi bahwa remaja Muslim harus selalu serius, tertutup, atau terkungkung tradisi. Kamala memperlihatkan bahwa identitas religius tidak meniadakan kebebasan berekspresi atau kompleksitas kepribadian.
Sebagai pahlawan super, Kamala tidak ditampilkan sebagai figur sempurna. Ia sering ragu, membuat kesalahan, dan belajar dari konsekuensinya. Pendekatan ini membuat ceritanya terasa dekat dengan penonton muda, terutama mereka yang juga sedang bergulat dengan identitas diri. Superpower dalam Ms. Marvel bukan sekadar alat bertarung, melainkan metafora proses tumbuh dan belajar menerima diri sendiri dan latar belakang yang membentuknya.
Pada akhirnya, Ms. Marvel menunjukkan bahwa representasi bukan soal kuota atau simbolisme kosong. Representasi yang baik adalah tentang penceritaan yang jujur dan berlapis. Dengan menghadirkan karakter Muslim yang utuh dengan kegembiraan, konflik, dan mimpi, serial ini membantu membuka ruang dialog yang lebih luas tentang keberagaman.
Ms. Marvel bukan hanya kisah tentang menyelamatkan dunia, tetapi juga tentang menyelamatkan cara kita memandang satu sama lain. Di tengah budaya populer yang sering menyederhanakan identitas, serial ini mengingatkan bahwa setiap individu memiliki cerita yang layak didengar, melampaui label dan prasangka.





