Maskulinitas, Bullying dan Pencarian Identitas dalam Film “Spud (2010)”

Bagikan

Oleh: Fiqih Alfian Hidayat (Peminat Kajian Literary Studies)

Sekilas, Spud (2010) tampak sebagai film remaja yang ringan dan jenaka. Latar sekolah asrama, tingkah polah siswa, serta humor khas masa pubertas membuatnya terlihat seperti hiburan semata. Namun, di balik kelucuannya, film yang diadaptasi dari novel karya John van de Ruit ini menyimpan pembacaan sosial yang tajam tentang bagaimana tekanan institusional membentuk pengalaman tumbuh dewasa. Spud bukan hanya kisah tentang remaja yang belajar mengenal diri, melainkan juga potret relasi kuasa, maskulinitas, perundungan, dan pencarian identitas dalam ruang yang menuntut kepatuhan.

Isu paling menonjol dalam Spud adalah normalisasi perundungan sebagai bagian dari sistem kekuasaan. Sekolah asrama dalam film ini beroperasi dengan hierarki yang ketat, di mana siswa senior memiliki otoritas tidak resmi untuk mengintimidasi junior. Kekerasan verbal dan psikologis diperlakukan sebagai tradisi, bukan pelanggaran. Praktik ini dibingkai sebagai cara membentuk karakter, seolah rasa takut dan penghinaan adalah harga yang wajar untuk menjadi “dewasa”. Melalui gambaran tersebut, Spud mengkritik institusi yang gagal membedakan antara disiplin dan penyalahgunaan kuasa.

Perundungan dalam film ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan konstruksi maskulinitas. Lingkungan sekolah mempromosikan citra laki-laki ideal yang identik dengan kekuatan fisik, keberanian agresif, dan ketahanan emosional. Anak laki-laki yang tidak memenuhi standar ini dianggap lemah dan pantas diejek. Spud, tokoh utama, hadir sebagai antitesis dari citra tersebut. Ia sensitif, gemar menulis, dan cenderung reflektif. Posisi Spud menunjukkan bagaimana definisi maskulinitas yang sempit dapat menekan ekspresi diri dan menyingkirkan mereka yang berbeda.

Tekanan untuk menyesuaikan diri itulah yang membuat perjuangan identitas menjadi tema sentral film ini. Spud terus-menerus dihadapkan pada upaya lingkungan untuk mendefinisikan siapa dirinya. Dalam situasi tersebut, ia menemukan pelarian sekaligus perlawanan melalui buku hariannya. Menulis menjadi ruang privat untuk memahami diri sendiri, menyusun pengalaman, dan mempertahankan suara personal di tengah kebisingan sosial. Film ini menegaskan bahwa kreativitas dan refleksi diri bukan bentuk pelarian yang lemah, melainkan strategi bertahan yang sah.

Selain relasi di sekolah, Spud juga menyinggung pengaruh latar belakang keluarga dan kelas sosial. Kondisi ekonomi Spud serta dinamika keluarganya menambah lapisan kerentanan yang ia rasakan. Ia tidak hanya berjuang untuk diterima oleh teman sebaya, tetapi juga membawa beban dari rumah. Film ini menunjukkan bahwa pengalaman remaja tidak pernah terlepas dari konteks sosial yang lebih luas. Identitas dibentuk oleh pertemuan antara tekanan institusi, relasi sosial, dan kondisi keluarga.

Yang membuat Spud relevan adalah caranya menggambarkan kekerasan sosial tanpa sensasionalisme. Film ini tidak menjadikan perundungan sebagai tontonan yang menghibur, melainkan sebagai praktik yang berdampak panjang. Humor yang hadir justru berfungsi sebagai lapisan yang memperlihatkan betapa mudahnya kekerasan dilegitimasi ketika dibungkus tradisi dan candaan. Penonton diajak tertawa, lalu dipaksa menyadari bahwa yang ditertawakan sesungguhnya adalah ketimpangan relasi kuasa.

Sebagai karya sastra populer yang diadaptasi ke layar lebar, Spud membuktikan bahwa film remaja mampu memuat kritik sosial yang substansial. Ia memperlihatkan bahwa masa tumbuh dewasa bukan hanya soal kenangan lucu dan persahabatan, tetapi juga tentang bagaimana sistem sosial membentuk, membatasi, dan kadang melukai individu. Film ini mengajak penonton untuk meninjau ulang praktik pendidikan dan budaya maskulinitas yang sering diterima tanpa pertanyaan.

Menggunakan pendekatan yang ringan namun reflektif, Spud menyampaikan pesan penting tentang perlunya empati dalam ruang pendidikan. Ia menyoroti bahwa tekanan yang dianggap wajar dapat meninggalkan jejak mendalam pada remaja yang sedang mencari jati diri. Dalam lanskap film remaja, Spud menempati posisi istimewa sebagai cerita yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengajak berpikir tentang bagaimana seharusnya masyarakat memperlakukan proses tumbuh dewasa.

Artikel terkait
Terkini
Follow us