MEDAN – Di tengah suasana duka yang menyelimuti sebagian wilayah Sumatera akibat banjir bandang, Pengurus Wilayah (PW) Al Jam’iyatul Washliyah Sumatera Utara menggelar Malam Munajat dan Doa Bersama. Acara yang berlangsung khidmat di Kantor PW Al Washliyah Sumut, Jl. Sisingamangaraja No. 144, Medan, Jumat (14/12/2025) malam ini, dirangkaikan dengan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan oleh Anggota DPD RI, Dedi Iskandar Batubara.
Dihadiri sekitar 200 pengurus wilayah, kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai titik di pulau Sumatera, mulai dari Aceh hingga Sumatera Barat.
Kemanusiaan Sebagai Inti Pancasila
Dedi Iskandar Batubara dalam paparannya menekankan bahwa pemahaman terhadap Empat Pilar Kebangsaan tidak boleh berhenti pada tataran teori, melainkan harus mewujud dalam sikap tolong-menolong antar sesama warga negara yang sedang tertimpa musibah.
“Malam ini kita berkumpul bukan sekadar menjalankan agenda formal. Kita sedang mempraktikkan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Saat saudara-saudara kita di Sumbar, Aceh, dan Sumut terendam banjir bandang, di situlah nasionalisme kita diuji. Apakah kita merasakan kepedihan mereka? Karena hakikat bangsa ini adalah satu tubuh,” ujar Dedi dengan nada lirih.
Ia menambahkan bahwa gotong royong dalam menangani dampak bencana adalah implementasi nyata dari menjaga keutuhan NKRI.
“Konstitusi kita, UUD 1945, mengamanatkan negara untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Namun, tanggung jawab itu tidak hanya di pundak pemerintah. Sebagai ormas Islam terbesar di Sumut, Al Washliyah harus hadir sebagai perpanjangan tangan negara untuk memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian menghadapi terjangan lumpur dan air,” tegasnya.
Bencana Sebagai Momentum Evaluasi Kebijakan
Lebih jauh, Senator asal Sumatera Utara ini menyoroti bahwa banjir bandang yang terjadi berulang kali merupakan alarm bagi semua pihak untuk kembali menelaah pasal-pasal konstitusi terkait pengelolaan lingkungan hidup.
“Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 menyebutkan bumi dan air serta kekayaan alam di dalamnya digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Jika hari ini alam justru mendatangkan bencana, kita harus berani bertanya: apakah pengelolaan alam kita sudah benar? Jangan sampai eksploitasi hutan atas nama ekonomi justru merobohkan pilar keselamatan rakyat kita sendiri,” tukas Dedi.
Doa dan Kerja Nyata
Di akhir orasinya, Dedi mengajak seluruh kader Washliyin untuk menjadikan hasil Munajat malam itu sebagai motor penggerak aksi kemanusiaan di lapangan.
“Mari kita kirimkan doa terbaik, namun jangan lupa kirimkan bantuan terbaik. Empat Pilar itu kokoh jika fondasi persaudaraannya kuat. Saya instruksikan kepada diri saya dan kita semua, jadikan Al Washliyah sebagai pelopor pemulihan pasca-banjir. Itulah cara paling mulia mencintai Indonesia saat ini,” pungkas Dedi Iskandar Batubara. Acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh ulama senior PW Al Washliyah Sumut, memohon keselamatan bagi seluruh rakyat Sumatera dan kekuatan bagi para relawan di lokasi bencana.





