Oleh: Naila Salsabila Ramadani (Mahasiswa Sastra Inggris UNPAM)
Sejarah sastra jarang berdiri sendiri. Ia hampir selalu lahir dari kondisi sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya. Kebangkitan sastra Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I menjadi contoh jelas bagaimana stabilitas politik dan kebijakan yang cermat dapat membuka ruang bagi berkembangnya kreativitas intelektual. Periode Elizabethan, yang berlangsung antara 1558 hingga 1603, kerap dikenang sebagai salah satu era paling gemilang dalam sejarah Inggris, bukan hanya karena kekuatan politiknya, tetapi juga karena pencapaian sastranya.
Ketika Elizabeth I naik takhta, Inggris berada dalam situasi yang rapuh. Konflik keagamaan antara Katolik dan Protestan meninggalkan luka sosial yang dalam. Pada masa pemerintahan Mary I, upaya mengembalikan Katolik sebagai agama negara dilakukan dengan cara represif. Penindasan terhadap kaum Protestan menimbulkan ketakutan, ketidakpastian, dan polarisasi di tengah masyarakat. Kondisi ini jelas tidak kondusif bagi pertumbuhan intelektual dan kesenian.
Elizabeth I memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih melanjutkan politik pemaksaan, ia mengambil jalan moderasi. Melalui kebijakan keagamaan yang dirumuskan pada 1559, Inggris memutus hubungan dengan otoritas Paus, mendirikan Gereja Inggris, dan menempatkan monarki sebagai pemimpin tertinggi gereja. Penerapan Book of Common Prayer menjadi simbol kompromi, karena masih mengakomodasi unsur tradisi lama tanpa mengabaikan semangat reformasi. Langkah ini tidak sepenuhnya memuaskan semua pihak, tetapi berhasil meredam konflik terbuka dan menciptakan stabilitas relatif.
Stabilitas inilah yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan budaya. Ketika ketegangan politik dan agama mulai mereda, masyarakat memperoleh ruang untuk berpikir, menulis, dan bereksperimen. Sastra pun berkembang sebagai sarana refleksi sosial. Pada masa Elizabethan, prosa Inggris mulai bergerak menjauh dari pola romance abad pertengahan yang penuh fantasi dan tokoh heroik yang nyaris tak manusiawi. Penulis mulai menghadirkan karakter yang lebih realistis, dekat dengan pengalaman hidup pembaca, dan sarat dengan persoalan moral serta sosial.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran cara pandang masyarakat. Dunia tidak lagi dipahami semata sebagai panggung petualangan, tetapi sebagai ruang tempat manusia bergulat dengan pilihan, etika, dan tanggung jawab. Sastra menjadi medium untuk menimbang nilai-nilai baru yang muncul seiring perubahan zaman. Dengan demikian, karya sastra Elizabethan tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan mengajak pembacanya berpikir kritis.
Beberapa tokoh penting menandai perkembangan ini. John Lyly, melalui Euphues, memperkenalkan gaya prosa yang halus dan penuh perenungan etis. Karyanya mencerminkan minat zaman itu terhadap pendidikan, moralitas, dan pembentukan karakter. Philip Sidney melangkah lebih jauh dengan Arcadia, sebuah karya yang memadukan unsur romance dengan puisi dan refleksi filosofis. Sidney menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi ruang dialog antara keindahan bahasa dan kedalaman pemikiran.
Di sisi lain, Thomas Nashe menghadirkan suara yang lebih tajam dan satiris. Melalui The Unfortunate Traveller, ia mengkritik kemunafikan sosial dan realitas keras kehidupan dengan gaya yang lugas dan terkadang provokatif. Sementara itu, Francis Bacon membawa tradisi penulisan esai yang lebih rasional dan sistematis. Karya-karyanya menandai lahirnya gaya prosa yang ringkas, argumentatif, dan berorientasi pada pengetahuan, sebuah langkah penting menuju pemikiran modern.
Dari sini terlihat bahwa kebangkitan sastra Inggris pada masa Elizabeth I bukanlah kebetulan. Ia merupakan hasil dari pertemuan antara kepemimpinan politik yang stabil, kebijakan keagamaan yang relatif toleran, dan semangat intelektual yang tumbuh subur. Elizabeth I tidak menulis karya sastra, tetapi kebijakannya menciptakan iklim yang memungkinkan sastra berkembang.
Masa Elizabethan membuktikan bahwa ketika konflik dikelola dengan bijak dan kreativitas diberi ruang, sebuah bangsa dapat melahirkan pencapaian budaya yang bertahan melampaui zamannya. Kebangkitan sastra Inggris pada periode ini menjadi warisan penting, sekaligus pengingat bahwa stabilitas dan kebebasan berpikir merupakan prasyarat utama bagi kemajuan intelektual.





