Oleh: Viola Angelina (Mahasiswi Sastra Inggris UNPAM)
Puisi sering kali bekerja sebagai ruang pengakuan yang paling jujur. Tanpa perlu alur panjang atau konflik besar, sebuah puisi mampu menangkap perasaan yang selama ini terpendam dan sulit diucapkan. “If I Only Love You in My Mind” karya Raegan adalah contoh kuat dari fungsi tersebut. Puisi ini sederhana secara bentuk, cenderung liris, dan tidak berupaya bercerita secara naratif. Namun justru melalui kesederhanaan itulah ia terasa dekat, terutama bagi pengalaman emosional generasi muda hari ini.
Puisi ini berbicara tentang cinta yang tidak pernah benar-benar diungkapkan. Perasaan itu hidup, tumbuh, dan dipelihara, tetapi hanya di dalam pikiran. Raegan tidak menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang dramatis atau penuh gejolak. Ia hadir sebagai proses batin yang sunyi, di mana seseorang memilih untuk tidak melangkah lebih jauh demi menjaga diri sendiri. Ketika penulis menyebut dirinya sebagai “a good liar”, kebohongan tersebut tidak dimaknai sebagai manipulasi terhadap orang lain, melainkan sebagai strategi bertahan. Ia berbohong kepada dunia luar demi kejujuran terhadap dirinya sendiri.
Dalam konteks ini, diam bukanlah bentuk ketakutan semata. Diam menjadi keputusan sadar. Subjek dalam puisi menyadari bahwa mengungkapkan perasaan tidak selalu membawa kelegaan. Ada kemungkinan penolakan, rasa malu, atau kehilangan kendali atas situasi. Dengan menyimpan cinta di dalam pikiran, ia mempertahankan ruang aman yang tidak bisa disentuh oleh respons orang lain. Puisi ini menampilkan cinta sebagai sesuatu yang personal, tidak harus divalidasi oleh pengakuan atau balasan.
Pengalaman ini sangat relevan dengan generasi Z. Di satu sisi, Gen Z dikenal ekspresif di ruang digital. Media sosial menjadi tempat berbagi opini, emosi, dan identitas. Namun dalam urusan perasaan romantis, banyak dari mereka justru sangat berhati-hati. Cinta sering kali hanya dibicarakan dalam lingkaran kecil, atau bahkan hanya disimpan sendiri. Trauma relasi, pengalaman penolakan, dan kesadaran akan kesehatan mental membuat generasi ini lebih selektif dalam mengambil risiko emosional.
Puisi Raegan menangkap sikap tersebut tanpa nada menghakimi. Ia tidak menyarankan bahwa cinta harus diperjuangkan atau diungkapkan dengan berani. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa mencintai secara diam-diam juga merupakan pilihan yang sah. Cinta tidak selalu harus mengarah pada hubungan. Ia bisa berhenti sebagai perasaan yang cukup, yang memberi kehangatan tanpa tuntutan. Dalam puisi ini, imajinasi bahkan digambarkan lebih aman daripada kenyataan. Pikiran menjadi ruang di mana cinta tidak bisa ditolak, tidak bisa disalahpahami, dan tidak bisa menyakiti.
Dari sudut pandang sastra, kekuatan puisi ini terletak pada kejujuran emosionalnya. Bahasa yang digunakan tidak rumit, metafora tidak berlebihan, dan ritmenya mengalir seperti pengakuan pribadi. Pilihan ini membuat pembaca merasa sedang mendengar seseorang berbicara, bukan sedang membaca karya yang ingin memamerkan kecanggihan bahasa. Kedekatan inilah yang membuat puisi tersebut mudah diresapi dan terasa relevan lintas pengalaman.
Puisi ini juga mengajak pembaca untuk meninjau ulang definisi cinta. Cinta tidak selalu identik dengan kepemilikan, pengakuan, atau keberanian mengambil langkah. Ada bentuk cinta yang tenang, tidak terlihat, dan tidak menuntut perubahan apa pun. Cinta seperti ini sering luput dari narasi populer yang lebih menyukai kisah perjuangan atau pengorbanan besar. Raegan justru memberi ruang bagi cinta yang memilih untuk tetap utuh dengan cara tidak dilibatkan dalam konflik dunia nyata.
Bagi banyak pembaca muda, puisi ini berfungsi sebagai validasi. Ia mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan menyimpan perasaan, dengan memilih diam, dan dengan mencintai dari jarak aman. Dalam dunia yang sering menuntut kejelasan dan keputusan cepat, puisi ini menawarkan jeda. Sebuah pengingat bahwa mengenal batas diri dan menjaga ketenangan batin juga merupakan bentuk kedewasaan emosional.
Melalui “If I Only Love You in My Mind”, Raegan menghadirkan potret cinta yang sunyi namun bermakna. Puisi ini tidak memaksa pembaca untuk berani atau berubah. Ia hanya mengajak pembaca untuk jujur pada diri sendiri, bahwa terkadang perasaan yang tidak pernah diucapkan pun tetap nyata, tetap berharga, dan cukup untuk memberi rasa hangat.





