Kehilangan, Keluarga, dan Makna Kehadiran dalam Film “After Yang”

Bagikan

Oleh: Erico Widuri (Mahasiswa, Peminat Kajian Film and Literary Studies)

Film After Yang (2021) karya Kogonada hadir dengan narasi yang tenang, nyaris tanpa ledakan konflik, tetapi justru menyentuh lapisan terdalam pengalaman manusia. Berlatar masa depan yang dekat, film ini menceritakan keluarga kecil yang hidup bersama Yang, sebuah android pendamping yang membantu merawat anak mereka. Yang bukan sekadar mesin canggih, melainkan bagian dari ritme keseharian keluarga tersebut. Ketika Yang tiba-tiba berhenti berfungsi, kehilangan itu membuka ruang refleksi tentang relasi, kehadiran, dan makna menjadi keluarga.

Secara tematik, After Yang dapat dibaca melalui pendekatan fenomenologi, terutama gagasan Martin Heidegger tentang being-with atau keberadaan bersama. Heidegger menekankan bahwa manusia memahami dirinya melalui relasi dengan yang lain. Yang, meski bukan manusia, hadir sebagai subjek yang “ada bersama” keluarga. Ia mendengarkan, menemani, dan menciptakan rasa aman. Ketika ia tidak lagi berfungsi, keluarga tersebut tidak hanya kehilangan alat bantu, tetapi juga kehilangan sebuah bentuk kehadiran yang selama ini memberi keseimbangan emosional.

Kehilangan Yang menyingkap fakta bahwa keintiman tidak selalu dibangun melalui ikatan darah. Dalam perspektif sosiologi keluarga, film ini menunjukkan bagaimana keluarga modern sering kali membentuk relasi afektif melalui rutinitas dan peran. Yang menjadi penghubung antara orang tua yang sibuk dan anak yang sedang tumbuh, antara kesibukan ekonomi dan kebutuhan emosional. Ketika penghubung itu hilang, muncul kekosongan yang memaksa setiap anggota keluarga meninjau ulang cara mereka hadir satu sama lain.

Narasi film ini berjalan lambat, dengan dialog minim dan banyak ruang sunyi. Pendekatan ini selaras dengan teori afek dalam kajian film, yang menekankan bahwa emosi tidak selalu disampaikan melalui konflik besar, melainkan melalui gestur kecil, jeda, dan keheningan. Penonton diajak merasakan duka yang tidak meledak, tetapi mengendap. Kesedihan keluarga dalam After Yang tidak ditampilkan secara melodramatis, melainkan melalui kebingungan, ketidakmampuan menamai rasa, dan upaya memahami kehilangan yang sulit dijelaskan.

Yang menarik, film ini juga membuka diskusi tentang kemanusiaan melalui lensa posthumanisme. Yang sebagai android memiliki memori, pengalaman, dan ketertarikan pada kebudayaan. Ia menyimpan potongan ingatan tentang kehidupan manusia, tentang momen kecil yang sering terlewat. Ketika memori itu diakses, keluarga menyadari bahwa Yang tidak hanya menjalankan fungsi teknis, tetapi juga membangun makna. Film ini mempertanyakan batas antara manusia dan non-manusia, sekaligus menegaskan bahwa nilai kehadiran tidak ditentukan oleh asal biologis, melainkan oleh relasi yang terbangun.

Dalam konteks kehidupan keluarga modern, After Yang terasa sangat relevan. Banyak keluarga hidup dalam ritme cepat, mengandalkan sistem, kebiasaan, atau pihak tertentu untuk menjaga stabilitas emosional. Film ini menunjukkan bahwa ketergantungan tersebut sering tidak disadari sampai ia hilang. Kehilangan menjadi momen pembuka kesadaran. Keluarga dalam film ini perlahan belajar untuk berbicara lebih jujur, meluangkan waktu, dan hadir secara utuh, bukan sekadar berbagi ruang fisik.

Secara visual, film ini mendukung pembacaan tematiknya. Pengambilan gambar yang statis, warna lembut, dan pencahayaan natural menciptakan suasana kontemplatif. Kamera sering kali membiarkan karakter berada dalam bingkai tanpa banyak gerak, seolah menegaskan bahwa makna justru muncul ketika manusia berhenti berlari dari kesunyian. Estetika ini memperkuat pesan bahwa kehadiran tidak selalu harus aktif atau produktif, tetapi cukup dengan ada dan memperhatikan.

After Yang bukan film yang menawarkan jawaban pasti. Ia lebih menyerupai ruang perenungan tentang kehilangan yang sunyi dan kehadiran yang sering luput disadari. Melalui pendekatan fenomenologis, sosiologis, dan posthumanis, film ini mengajak penonton memikirkan ulang arti kebersamaan di tengah dunia yang semakin bergantung pada teknologi. Kehangatan keluarga, seperti yang ditunjukkan film ini, tumbuh dari perhatian kecil, dari kesediaan untuk hadir, dan dari keberanian merawat relasi yang selama ini dianggap biasa.

Artikel terkait
Terkini
Follow us