Oleh: Kamalia Rosidah (Mahasiswi, Peminat Kajian Bahasa dan Sastra)
The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry kerap ditempatkan di rak bacaan anak. Bahasa yang ringkas, tokoh utama berupa anak kecil, serta ilustrasi yang menyertainya membuat novel ini tampak sederhana dan ramah bagi pembaca muda. Namun, jika dibaca melalui kacamata kajian sastra, terutama teori resepsi pembaca dan naratologi, The Little Prince justru menunjukkan kedekatan yang lebih kuat dengan pembaca dewasa, baik dari segi struktur penceritaan maupun muatan reflektifnya.
Dalam teori naratologi Gérard Genette, posisi narator memiliki peran penting dalam menentukan arah pembacaan sebuah teks. The Little Prince disampaikan melalui sudut pandang seorang narator dewasa, seorang pilot yang telah kehilangan cara pandang kanak-kanaknya. Narator ini tidak hanya menceritakan peristiwa, tetapi juga merefleksikan pengalaman hidup, kekecewaan, dan jarak emosionalnya terhadap dunia orang dewasa. Kehadiran sudut pandang ini menempatkan pembaca sebagai sesama pengamat yang diajak merenung, bukan sebagai anak yang sedang mengikuti petualangan imajinatif.
Struktur cerita The Little Prince pun memperkuat kesan tersebut. Alih-alih menghadirkan konflik berbasis aksi atau ketegangan yang progresif, novel ini bergerak melalui rangkaian pertemuan simbolik. Setiap planet yang dikunjungi sang pangeran kecil memperkenalkan figur orang dewasa dengan karakteristik tertentu: raja, pebisnis, pemabuk, hingga penyalin. Dalam perspektif semiotika sastra, tokoh-tokoh ini tidak berfungsi sebagai karakter realistis, melainkan sebagai tanda yang mewakili absurditas, kesepian, dan kekosongan makna dalam kehidupan orang dewasa. Pembacaan simbolik semacam ini menuntut kedewasaan intelektual dan pengalaman hidup, sesuatu yang lebih akrab bagi pembaca dewasa dibandingkan anak-anak.
Dari sudut teori resepsi pembaca Hans Robert Jauss, makna karya sastra dibentuk melalui horizon harapan pembacanya. Anak-anak mungkin menikmati The Little Prince sebagai cerita tentang perjalanan dan pertemanan, tetapi pembaca dewasa cenderung menangkap lapisan makna yang lebih dalam. Percakapan tentang cinta, kehilangan, tanggung jawab, dan kefanaan hidup sering kali hanya benar-benar beresonansi ketika pembaca memiliki pengalaman emosional yang relevan. Kalimat terkenal tentang “yang terpenting tidak terlihat oleh mata” bukan sekadar nasihat moral sederhana, melainkan refleksi eksistensial tentang cara manusia memaknai hubungan dan kehidupan.
Kesederhanaan bahasa dalam The Little Prince sering disalahartikan sebagai ciri bacaan anak. Dalam kajian stilistika, kesederhanaan justru dapat menjadi strategi estetik. Saint-Exupéry menggunakan kalimat ringkas dan dialog langsung untuk membuka ruang interpretasi, bukan untuk membatasi makna. Bahasa yang tidak bertele-tele memungkinkan pembaca dewasa membaca dengan tenang, merenungkan jeda antar kalimat, dan mengisi kekosongan makna dengan pengalaman personal. Strategi ini sejalan dengan gagasan sastra filosofis yang tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca berdialog dengan teks.
Aspek lain yang mempertegas kedewasaan sasaran pembaca adalah tema alienasi. The Little Prince berkali-kali menyoroti keterasingan manusia modern, baik dari sesama maupun dari dirinya sendiri. Narator dewasa merasa terputus dari dunia anak-anak, sementara sang pangeran kecil justru menjadi cermin yang memperlihatkan keganjilan dunia orang dewasa. Dalam perspektif eksistensialisme, novel ini mempertanyakan nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat, seperti kekuasaan, kepemilikan, dan produktivitas, lalu membandingkannya dengan nilai relasi dan kehadiran. Tema semacam ini jarang menjadi fokus utama dalam sastra anak.
Singkat kata, The Little Prince lebih tepat dipahami sebagai karya sastra lintas usia yang secara struktur dan penyajian naratif condong pada pembaca dewasa. Novel ini membuktikan bahwa kompleksitas makna tidak selalu hadir melalui bahasa yang rumit atau alur yang dramatis. Justru melalui kesederhanaan, Saint-Exupéry menyampaikan refleksi mendalam tentang manusia, hubungan, dan kehilangan makna dalam kehidupan modern. The Little Prince bukan sekadar cerita tentang anak kecil di planet asing, melainkan undangan sunyi bagi pembaca dewasa untuk meninjau kembali cara mereka memandang dunia.




