MaXXXine dan Tubuh Perempuan dalam Horor Kontemporer

Bagikan

Oleh: Nasywa Az Zhafira (Penggiat Kajian Woman Studies)

Film tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai medium kultural yang merepresentasikan nilai, ideologi, serta relasi kekuasaan yang hidup dalam masyarakat. Melalui narasi, visual, dan karakterisasi, sinema membentuk cara pandang penonton terhadap berbagai isu sosial, termasuk gender dan tubuh perempuan. Dalam sejarah genre horor, perempuan kerap diposisikan sebagai korban pasif, objek penderitaan, atau sekadar alat pemicu ketegangan. Namun, perkembangan sinema kontemporer menunjukkan adanya upaya untuk menantang pola representasi tersebut.

Film MaXXXine karya Ti West, yang dirilis pada 2024 sebagai bagian penutup trilogi X, menghadirkan sosok Maxine Minx, seorang perempuan muda dengan ambisi besar untuk meraih ketenaran di industri hiburan Amerika pada era 1980-an. Maxine bukan figur perempuan horor konvensional yang menunggu diselamatkan atau jatuh sebagai korban pertama. Ia tampil sebagai subjek yang sadar akan tubuhnya, citranya, dan posisinya dalam sistem hiburan yang eksploitatif. Namun, film ini juga tidak sepenuhnya meninggalkan estetika eksploitasi yang menjadi ciri khas horor era tersebut. Ketegangan inilah yang menjadikan MaXXXine menarik untuk dibaca melalui perspektif teori feminisme film.

Dalam kerangka teori feminisme sinema yang dikemukakan Laura Mulvey, konsep male gaze menjelaskan bagaimana kamera film sering merepresentasikan perempuan sebagai objek visual untuk kepuasan pandangan laki-laki. Dalam MaXXXine, kamera kerap menyorot tubuh Maxine dengan sudut dan pencahayaan yang menegaskan sensualitasnya, mengingatkan pada estetika film eksploitasi tahun 1980-an. Secara visual, pendekatan ini berpotensi mereproduksi objektifikasi tubuh perempuan. Namun, film ini juga memberi ruang bagi pembacaan yang lebih kompleks.

Berbeda dengan karakter perempuan horor klasik, Maxine tidak digambarkan tidak sadar akan tatapan yang diarahkan kepadanya. Ia memahami bagaimana tubuhnya dinilai, diperdagangkan, dan dieksploitasi dalam industri hiburan. Kesadaran ini mengubah posisi Maxine dari sekadar objek menjadi subjek yang aktif mengambil keputusan. Ia tidak menolak sistem yang menindasnya secara frontal, tetapi memanfaatkan celah di dalamnya untuk mencapai tujuan personal. Dalam konteks ini, agensi Maxine muncul bukan sebagai kebebasan mutlak, melainkan sebagai strategi bertahan dalam struktur patriarkal.

Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran feminisme poststrukturalis yang melihat agensi perempuan sebagai sesuatu yang situasional dan kontekstual. Kekuasaan tidak selalu dilawan melalui penolakan total, tetapi juga melalui negosiasi dan pemanfaatan ruang yang tersedia. Maxine menggunakan tubuh dan citranya sebagai modal simbolik, meskipun sadar bahwa pilihan tersebut mengandung risiko dan ambiguitas moral. Film ini dengan demikian tidak menawarkan narasi pemberdayaan yang bersih dan ideal, tetapi memperlihatkan realitas rumit yang dihadapi perempuan ambisius dalam sistem yang bias gender.

Sebagai film horor, MaXXXine juga memanfaatkan kekerasan dan ketegangan psikologis sebagai metafora sosial. Kekerasan yang dialami atau dihadirkan di sekitar Maxine dapat dibaca sebagai representasi ketakutan kolektif terhadap perempuan yang berani mengambil ruang dan kekuasaan. Dalam banyak narasi horor, perempuan yang menolak norma kesopanan, kesederhanaan, dan kepatuhan sering diposisikan sebagai ancaman yang harus dihukum. MaXXXine merefleksikan pola ini sekaligus mengkritiknya, dengan menunjukkan bagaimana ambisi perempuan kerap dikaitkan dengan bahaya dan amoralitas.

Yang menarik, film ini tidak sepenuhnya membebaskan diri dari praktik objektifikasi yang dikritiknya. Justru dalam kontradiksi tersebut, MaXXXine membuka ruang refleksi bagi penonton. Film ini mengajak kita mempertanyakan batas antara eksploitasi dan agensi, antara penggunaan tubuh sebagai alat dan tubuh sebagai milik diri sendiri. Ketegangan ini mencerminkan realitas perempuan dalam industri hiburan, yang sering kali harus berkompromi dengan sistem demi bertahan dan berkembang.

Melalui karakter Maxine Minx, MaXXXine menghadirkan potret perempuan yang tidak mudah dikategorikan sebagai korban atau pahlawan. Ia rapuh, ambisius, strategis, dan penuh kontradiksi. Film ini menantang penonton untuk membaca ulang relasi antara tubuh perempuan, kekuasaan, dan representasi visual dalam sinema horor kontemporer.

Artikel terkait
Terkini
Follow us