Oleh: Narendra Syarival Ramadhan (Mahasiswa, Penggiat Kajian Film Studies)
Film TIMUR menjadi salah satu karya sinema Indonesia yang mencuri perhatian publik menjelang akhir 2025. Disutradarai sekaligus dibintangi oleh Iko Uwais, film ini menandai pergeseran penting dalam lanskap film laga nasional. Tidak lagi semata mengandalkan koreografi pertarungan, TIMUR menghadirkan narasi berlatar sejarah yang memadukan drama keluarga, konflik sosial, dan kekerasan yang terukur. Pilihan ini menunjukkan upaya sinema Indonesia untuk bergerak dari hiburan murni menuju ruang refleksi yang lebih luas.
Diangkat dari peristiwa nyata Operasi Mapenduma di Papua, TIMUR mengisahkan perjalanan dua saudara yang terpisah sejak kecil dan kembali dipertemukan dalam situasi penuh ketegangan. Latar geografis Papua yang ekstrem dan kondisi sosial politik yang kompleks menjadi fondasi penting cerita. Wilayah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lokasi visual, tetapi juga sebagai ruang makna yang membentuk konflik batin dan identitas para tokohnya. Dalam konteks ini, film dapat dibaca melalui teori sinema sejarah yang menempatkan film sebagai medium pembentuk ingatan kolektif.
Menurut pemikiran Maurice Halbwachs tentang memori kolektif, ingatan atas peristiwa sejarah tidak pernah berdiri netral, melainkan dibentuk melalui narasi sosial dan representasi budaya. TIMUR berperan sebagai salah satu medium yang membingkai ulang peristiwa Mapenduma ke dalam bahasa sinema populer. Film ini tidak berpretensi menjadi dokumen sejarah, tetapi menyajikan interpretasi emosional atas trauma, konflik, dan relasi kuasa yang menyertai peristiwa tersebut. Dengan cara ini, sejarah tidak dihadirkan sebagai data kaku, melainkan sebagai pengalaman manusiawi yang dapat dirasakan penonton.
Dilihat dari aspek penyutradaraan, Iko Uwais tampil memperlihatkan kedewasaan visual yang signifikan. Adegan laga disusun secara realistis dan tidak berlebihan. Kekerasan ditampilkan sebagai konsekuensi dari konflik, bukan sebagai tontonan kosong. Dalam kerangka teori genre, TIMUR menunjukkan bagaimana film aksi dapat berfungsi sebagai alat naratif, bukan sekadar atraksi. Koreografi pertarungan khas Iko tetap hadir, tetapi kini dilekatkan pada perkembangan karakter dan dinamika emosional, terutama dalam relasi dua saudara yang terpisah oleh sejarah dan ideologi.
Dari sudut pandang teori representasi, film ini juga menarik untuk dicermati karena memilih mengangkat Papua sebagai ruang cerita. Selama ini, Papua kerap hadir dalam wacana nasional sebagai wilayah konflik yang direduksi pada stereotip kekerasan. TIMUR berupaya keluar dari penyederhanaan tersebut dengan menampilkan lanskap sosial yang lebih berlapis. Konflik tidak digambarkan secara hitam putih, melainkan sebagai hasil dari pertemuan kepentingan negara, aparat, dan masyarakat lokal. Meski demikian, film ini tetap berada dalam posisi sensitif, karena representasi sejarah selalu berisiko menyingkirkan perspektif tertentu.
Kekuatan utama TIMUR terletak pada keberaniannya menjadikan sejarah lokal sebagai sumber cerita sinematik. Dalam konteks perfilman Indonesia, langkah ini penting karena memperluas cakrawala narasi nasional yang selama ini didominasi tema urban atau melodrama keluarga. Dengan mengangkat peristiwa Mapenduma, film ini membuka ruang diskusi publik tentang sejarah yang jarang hadir dalam budaya populer. Sinema, dalam hal ini, berfungsi sebagai jembatan antara ingatan personal, trauma kolektif, dan kesadaran sosial.
Dari sisi perkembangan industri, TIMUR juga menandai fase baru film laga Indonesia. Aksi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan drama, sejarah, dan refleksi moral. Pendekatan ini sejalan dengan kecenderungan sinema global yang menuntut kedalaman naratif tanpa meninggalkan daya tarik visual. Iko Uwais, yang selama ini dikenal melalui film laga internasional, tampak berupaya membangun identitas sinematik yang lebih kontekstual dengan sejarah Indonesia.




