Luka yang Diwariskan dalam Drama “Skia Doxa”

Bagikan

Oleh: Yosafat Gustaf Raja Silitonga (Mahasiswa Sastra Inggris UNPAM)

Indonesia sering dipuji sebagai bangsa yang berdiri di atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Di ruang-ruang publik, toleransi menjadi slogan yang diulang dalam pidato, kurikulum sekolah, hingga kampanye media. Namun, slogan tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Di balik narasi keberagaman, prasangka terhadap kelompok minoritas masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam bentuk yang tidak selalu kasar, tetapi justru lebih halus: bisik-bisik, stereotip, kecurigaan, dan pengucilan yang perlahan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Realitas inilah yang diangkat dalam pertunjukan drama Skia Doxa, karya mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Pamulang. Dengan mengangkat kisah sebuah keluarga Tionghoa yang membuka usaha bakmi di sebuah kampung, drama ini tidak sekadar menghadirkan konflik antartokoh, melainkan juga membedah bagaimana prasangka sosial dapat berubah menjadi penindasan yang sistematis.

Cerita berpusat pada Wei Wei, Kung Kung, dan Afung, sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang berusaha mencari penghidupan melalui usaha sederhana. Namun, kehadiran mereka tidak disambut sebagai sesama warga yang ingin bekerja, melainkan dipandang sebagai “orang lain” yang patut dicurigai. Bahkan sebelum masyarakat mengenal mereka secara pribadi, identitas etnis telah lebih dahulu dijadikan dasar penilaian. Warung bakmi mereka dituduh menjual makanan yang tidak halal tanpa bukti yang jelas. Kecurigaan mengalahkan fakta, sementara prasangka menggantikan akal sehat.

Drama ini memperlihatkan bahwa diskriminasi hampir selalu berawal dari stereotip. Ketika seseorang tidak lagi dinilai berdasarkan perilaku, melainkan berdasarkan identitas kelompoknya, maka keadilan kehilangan pijakan. Dalam kehidupan nyata, masyarakat Tionghoa di Indonesia telah lama menghadapi beban stereotip serupa. Mereka kerap diasosiasikan dengan kekayaan, eksklusivitas, atau bahkan loyalitas yang dipertanyakan. Padahal, sebagaimana kelompok etnis lainnya, masyarakat Tionghoa terdiri atas individu-individu dengan latar belakang ekonomi, budaya, dan pengalaman hidup yang sangat beragam.

Salah satu adegan paling ironis dalam Skia Doxa adalah ketika dua tokoh berusaha menjarah makam Tionghoa karena percaya bahwa keluarga Tionghoa pasti menguburkan harta benda bersama jenazah. Adegan ini bukan sekadar konflik dramatik, tetapi sindiran tajam terhadap cara stereotip bekerja. Di satu sisi, kelompok minoritas dipandang negatif dan dicurigai; di sisi lain, mereka juga menjadi sasaran eksploitasi karena dianggap memiliki kekayaan. Kebencian dan keserakahan ternyata dapat berjalan berdampingan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana prasangka memperoleh legitimasi melalui mekanisme sosial. Menjelang akhir cerita, warga mengadakan musyawarah untuk menentukan apakah keluarga Wei Wei boleh tetap berjualan. Tidak ada bukti yang menguatkan tuduhan terhadap mereka. Namun, keputusan akhirnya tetap mengharuskan keluarga tersebut meninggalkan kampung. Mayoritas memenangkan suara, tetapi belum tentu memenangkan keadilan. Demokrasi kehilangan maknanya ketika suara terbanyak berdiri di atas prasangka, bukan fakta.

Pesan ini terasa sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Di era media sosial, prasangka dapat menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Sebuah isu yang belum terverifikasi mampu membentuk opini publik hanya dalam hitungan jam. Identitas seseorang sering kali lebih dahulu menjadi sasaran dibandingkan kebenaran informasi itu sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa diskriminasi tidak lagi hanya hidup dalam percakapan langsung, tetapi juga berkembang melalui ruang digital yang mempercepat penyebaran stigma.

Karena itu, Skia Doxa tidak hanya berbicara tentang pengalaman masyarakat Tionghoa. Drama ini berbicara mengenai siapa saja yang pernah menjadi korban pelabelan sosial. Hari ini korbannya mungkin kelompok etnis tertentu, besok bisa jadi kelompok agama, suku, atau komunitas lain. Selama masyarakat lebih memilih mempercayai prasangka daripada mengenal sesama secara utuh, diskriminasi akan terus menemukan ruang untuk hidup.

Ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, melainkan kemampuannya memperlakukan setiap warga secara setara. Skia Doxa mengingatkan bahwa luka akibat diskriminasi tidak selalu lahir dari kekerasan terbuka. Ia sering berawal dari prasangka yang dibiarkan tumbuh, diwariskan, lalu dianggap sebagai kebenaran. Di situlah sesungguhnya tantangan terbesar Indonesia sebagai bangsa majemuk: memastikan bahwa keberagaman tidak berhenti menjadi semboyan, tetapi benar-benar menjadi cara hidup.

Artikel terkait
Terkini
Follow us