Carpe Diem Hari Ini

Bagikan

Oleh: Saiffuddin (Peminat Kajian Sastra Klasik dan Budaya)

Ada sebuah adegan dalam film Dead Poets Society yang sulit dilupakan. Seorang guru sastra bernama John Keating, diperankan Robin Williams, membawa murid-muridnya berdiri di depan foto alumni yang tergantung di koridor sekolah. “Lihat mereka,” katanya. “Semua punya mimpi, semua punya ambisi, dan kini mereka telah menjadi makanan cacing.” Lalu ia berbisik: Carpe diem. Seize the day.

Adegan itu terasa relevan bukan karena dramatis, tetapi karena jujur. Kita semua tahu waktu berjalan terus. Kita tahu kesempatan tidak selalu datang dua kali. Namun setiap hari, jutaan orang di seluruh dunia , termasuk mungkin kita sendiri, tetap memilih untuk menunggu.

Menunggu waktu yang lebih tepat. Menunggu kondisi yang lebih ideal. Menunggu sampai semuanya siap.

Dan waktu terus berjalan, tanpa menunggu kita.

Filsuf Romawi Horatius, yang pertama kali menuliskan frasa carpe diem dalam kumpulan puisinya Odes, memahami sesuatu yang sederhana namun sering kita abaikan: bahwa waktu sebenarnya hanya ada dalam tiga bentuk, masa lalu, masa kini, dan masa depan, tetapi hanya satu yang benar-benar nyata dan bisa kita sentuh, yaitu saat ini.

Masa lalu sudah tidak bisa digapai kembali. Betapapun kita menyesal, meratapi, atau merindukan apa yang sudah lewat, ia tidak akan kembali. Sementara masa depan, meski sering kita rencanakan sedetail mungkin, tetap menyimpan ketidakpastian yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya.

Maka apa yang tersisa? Hari ini. Momen ini. Detik yang sedang berjalan tepat saat mata kita membaca kalimat ini.

Carpe diem bukan ajaran untuk hidup sembrono atau mengabaikan rencana jangka panjang. Ia adalah pengingat bahwa satu-satunya ruang tempat kita bisa benar-benar bertindak adalah sekarang. Bukan kemarin, bukan besok, sekarang.

Ada hal lain yang sering kita lupakan: setiap momen dalam hidup bersifat unik. Hari ini mungkin terasa mirip dengan kemarin, rutinitas yang sama, wajah yang sama, jalan yang sama. Tapi secara hakiki, momen ini tidak akan pernah terulang.

Percakapan yang kita lakukan hari ini dengan orang yang kita sayangi, versi persis dari percakapan itu, dengan emosi yang sama, kondisi yang sama, tidak akan pernah terjadi lagi. Begitu pula kesempatan yang ada di depan kita saat ini: ia hadir dalam bentuknya yang khas, pada titik waktu yang spesifik, dan jika dilewatkan, ia tidak akan datang kembali dalam wujud yang sama.

Inilah yang membuat menunda menjadi pilihan yang lebih berisiko dari yang kita kira.

Ada perbedaan mendasar antara dua jenis penyesalan. Penyesalan karena sudah mencoba namun gagal masih meninggalkan sesuatu, rasa bahwa kita telah berjuang, bahwa kita pernah berani. Penyesalan karena tidak pernah mencoba sama sekali tidak meninggalkan apa-apa, kecuali pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab: bagaimana kalau dulu aku memulainya?

Pertanyaan itu, kata banyak orang yang telah menginjak usia senja, adalah yang paling menyakitkan.

Carpe diem tidak meminta kita untuk tergesa-gesa atau bertindak tanpa pertimbangan. Ia hanya meminta satu hal: jangan biarkan ketakutan dan penundaan merampas momen yang sudah ada di tangan kita.

Impian yang terus ditunda akan kehilangan tanahnya. Waktu tidak memiliki tombol jeda. Dan satu-satunya hari yang bisa kita mulai adalah hari ini.

Seize it.

Artikel terkait
Terkini
Follow us