Maskulinitas Toksik dan Stereotip Gender

Bagikan

Oleh: Amelita Agustin (Mahasiswi Sastra Inggris UNPAM)

Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya populer, masyarakat semakin sering diperhadapkan pada pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi sarat makna: apa arti menjadi laki-laki? Pertanyaan ini tampak sepele, namun telah melahirkan berbagai standar sosial yang sering kali membatasi kebebasan individu. Drama Who’s More Manly? mengangkat persoalan tersebut dengan cara yang ringan, jenaka, tetapi menyentuh akar masalah yang serius, yakni maskulinitas toksik dan stereotip gender.

Selama bertahun-tahun, masyarakat membangun definisi maskulinitas yang relatif sempit. Laki-laki dianggap harus kuat, tegas, tidak emosional, menyukai aktivitas tertentu, bahkan diwajibkan tampil dengan cara yang dianggap “jantan”. Sebaliknya, mereka yang menunjukkan sifat lembut, gemar merawat diri, atau memiliki gaya ekspresi berbeda sering kali dipandang menyimpang dari norma. Padahal, konsep maskulinitas bukanlah sesuatu yang bersifat alamiah sepenuhnya. Ia dibentuk oleh konstruksi sosial yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Drama Who’s More Manly? menghadirkan dua tokoh yang merepresentasikan dua pandangan berbeda mengenai maskulinitas. Mr. Bagja mewakili cara pandang tradisional yang mengaitkan kelelakian dengan kekuatan fisik dan penampilan tertentu. Sementara Jamesbrow hadir sebagai sosok yang percaya diri mengekspresikan dirinya tanpa merasa harus memenuhi standar maskulinitas konvensional. Konflik keduanya menunjukkan bagaimana masyarakat sering kali lebih sibuk menilai penampilan seseorang daripada memahami karakter dan kualitas pribadinya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di atas panggung drama. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak laki-laki tumbuh dengan tekanan sosial yang berat. Mereka diajarkan untuk menekan emosi, tidak menangis, dan selalu tampak kuat. Akibatnya, banyak yang mengalami kesulitan mengelola kesehatan mental karena merasa menunjukkan kerentanan adalah tanda kelemahan. Data berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa norma maskulinitas yang kaku dapat meningkatkan risiko stres, depresi, hingga perilaku agresif.

Ironisnya, masyarakat yang menuntut laki-laki menjadi “jantan” sering kali tidak memiliki definisi yang konsisten tentang apa itu kejantanan. Warna pakaian, gaya rambut, penggunaan produk perawatan diri, bahkan cara berbicara sering dijadikan ukuran maskulinitas. Padahal, semua itu hanyalah simbol budaya yang berbeda-beda di setiap tempat dan masa. Warna merah muda, misalnya, pada abad ke-19 justru pernah diasosiasikan dengan laki-laki karena dianggap merepresentasikan keberanian. Artinya, standar yang dianggap mutlak hari ini bisa jadi hanyalah hasil kesepakatan sosial yang berubah seiring waktu.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan maskulinitas berkaitan erat dengan penghormatan terhadap keberagaman manusia. Ketika seseorang dipaksa mengikuti standar tertentu, ruang untuk mengekspresikan identitas diri menjadi semakin sempit. Akibatnya, muncul diskriminasi, perundungan, dan pengucilan terhadap mereka yang dianggap berbeda. Drama Who’s More Manly? secara tegas mengkritik kecenderungan ini dengan menunjukkan bahwa upaya membuktikan kejantanan justru sering lahir dari rasa takut tidak diterima oleh lingkungan sosial.

Karena itu, sudah saatnya masyarakat memandang maskulinitas secara lebih inklusif. Menjadi laki-laki tidak seharusnya diukur dari warna pakaian, kekuatan fisik, atau kemampuan menyembunyikan emosi. Keberanian sejati justru tampak dalam kemampuan menerima diri sendiri dan menghargai perbedaan orang lain. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, integritas, empati, dan penghormatan terhadap sesama jauh lebih penting dibandingkan atribut-atribut simbolik yang selama ini diagungkan.

Singkatnya, pertanyaan “siapa yang lebih jantan?” mungkin bukan pertanyaan yang perlu dijawab. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap individu dapat hidup secara autentik tanpa takut dihakimi oleh standar sosial yang sempit. Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang memaksa semua orang menjadi seragam, melainkan masyarakat yang memberi ruang bagi setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri. Di situlah letak kemanusiaan yang sesungguhnya.

Artikel terkait
Terkini
Follow us