Prasangka dan Kebenaran yang Terlambat

Bagikan

Oleh: Divanita (Mahasiswi Sastra Inggris UNPAM)

Di sebuah gang sempit yang ramai, aroma kaldu mengepul dari gerobak mie milik Wei Wei dan keluarganya. Mereka datang bukan untuk mencari masalah, melainkan untuk mencari nafkah, menawarkan semangkuk makanan hangat kepada siapa saja yang lapar. Namun rupanya, di negeri yang mengaku menjunjung toleransi, bahkan gerobak mie pun bisa menjadi medan perang.

Drama The Price of Prejudice: Social Discrimination mengangkat kisah yang terasa menyayat justru karena ia begitu biasa. Wei Wei, Afung, dan Kung Kang adalah keluarga Tionghoa-Indonesia yang hanya ingin hidup damai. Namun prasangka datang lebih cepat dari pelanggan pertama mereka. Sebelum semangkuk mie sempat tersaji, stigma sudah telanjur mengambil tempat duduk.

Konflik bermula dari kecemburuan Kosasih yang kemudian menyebar lewat mulut Naura, tanpa bukti, tanpa verifikasi, hanya bermodal asumsi dan ketidaksukaan. Tuduhan bahwa keluarga itu menjual daging babi menyebar bak api di musim kemarau. Warga percaya. Warung ditutup. Keluarga itu terusir. Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, yang tersisa hanya puing-puing kepercayaan yang tak bisa dibangun kembali semudah memasang papan nama baru.

Inilah yang paling menusuk dari drama ini: kebenaran datang terlambat.

Kita hidup di era di mana informasi bergerak lebih cepat dari kebijaksanaan. Sebuah kabar burung bisa menghancurkan reputasi dalam hitungan jam, sementara klarifikasi butuh berminggu-minggu untuk didengar, dan bahkan setelah didengar, bekasnya tetap ada. Naura bukan tokoh jahat yang digambarkan dengan tanduk di kepalanya. Ia hanyalah seseorang yang meneruskan kabar tanpa bertanya lebih dulu. Dan justru itulah yang membuatnya berbahaya.

Prasangka berbasis etnis dan agama bukan fenomena baru di Indonesia. Ia telah berakar lama, tumbuh subur dalam keheningan yang dianggap normal. Komunitas Tionghoa-Indonesia, seperti yang digambarkan dalam drama ini, kerap menghadapi dua pilihan yang sama beratnya: berasimilasi sepenuhnya hingga identitas terhapus, atau mempertahankan kekhasan dan menanggung stigma. Wei Wei memilih yang kedua, dan ia membayar mahal.

Yang perlu dicermati bukan hanya perilaku Kosasih yang dengki atau Naura yang ceroboh. Yang lebih mengkhawatirkan adalah keputusan kolektif warga dalam rapat komunitas itu. Mereka memilih pengusiran atas dasar desas-desus. Mereka memilih keseragaman atas dasar ketakutan. Ini bukan kesalahan satu orang, ini adalah kegagalan komunitas.

Toleransi yang sesungguhnya bukan sekadar membiarkan yang berbeda untuk ada. Toleransi adalah bersedia mengenal yang berbeda sebelum menghakiminya. Bersedia bertanya: apakah tuduhan ini benar? Bersedia berdiri dan berkata, “Kita butuh bukti sebelum mengambil tindakan.”

Drama ini tidak menawarkan akhir yang manis. Keluarga Wei Wei pergi dengan luka yang tidak kasat mata. Dan itulah kejujurannya yang paling berharga bahwa diskriminasi tidak selalu berakhir dengan rekonsiliasi dramatis dan pelukan hangat. Kadang ia berakhir dengan keheningan dan kepergian yang menyisakan pertanyaan: apakah kita sudah cukup manusiawi?

Pertanyaan itu layak kita bawa pulang dari pertunjukan ini, bukan sebagai beban, melainkan sebagai cermin. Karena sebelum kita menghakimi Wei Wei dan keluarganya, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: sudah berapa kali kita menjadi Naura tanpa menyadarinya?

Harga prasangka memang tidak tertera di label mana pun. Tapi selalu ada yang membayarnya dan mereka bukan yang paling bersalah.

Artikel ini merupakan ulasan opini atas pertunjukan drama bertema diskriminasi sosial.

Artikel terkait
Terkini
Follow us