Ketika Tatapan Pun Bisa Menyakiti

Bagikan

Oleh: Tasya Aulia Hidayati (Mahasiswi Sastra Inggris UNPAM)

Kita kerap membayangkan diskriminasi sebagai sesuatu yang kasat mata: kekerasan fisik, penghinaan terang-terangan, atau kebijakan yang secara eksplisit meminggirkan seseorang. Namun ada bentuk diskriminasi lain yang jauh lebih licin. Ia hadir dalam tatapan yang terlalu lama, dalam bisik-bisik di sudut lorong, dalam kursi kosong yang sengaja dibiarkan tidak diduduki di sebelah seseorang yang dianggap “berbeda.”

Inilah yang coba diungkap oleh film Wonder (2017): bahwa ableisme, prasangka dan perlakuan tidak adil terhadap penyandang disabilitas, tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia sering kali menyusup melalui perilaku sehari-hari yang dianggap biasa, bahkan tidak disadari sebagai bentuk diskriminasi sama sekali.

Auggie Pullman, tokoh utama film ini, lahir dengan sindrom Treacher Collins yang memengaruhi bentuk wajahnya. Ketika untuk pertama kalinya ia masuk ke sekolah reguler, yang ia hadapi bukan kekerasan fisik, melainkan sesuatu yang lebih sukar dilawan: jarak. Teman-teman sekelasnya memilih tidak duduk di dekatnya. Mereka berbisik satu sama lain ketika ia lewat. Mereka melihatnya seperti melihat sesuatu yang asing, bukan seseorang yang ingin dikenal.

Adegan paling memilukan muncul ketika Auggie secara tidak sengaja mendengar temannya, Jack, berkata bahwa ia lebih memilih mati daripada harus terlihat seperti Auggie. Belakangan, teman lain memasang tulisan “No freaks allowed” di loker Auggie. Kata-kata itu tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi lukanya jauh lebih dalam dari sekadar memar.

Yang membuat film ini relevan bukan hanya dramanya melainkan cerminnya. Wonder memperlihatkan betapa normalnya perilaku-perilaku itu terjadi di sekitar kita. Di sekolah, di tempat kerja, di ruang publik. Seseorang yang menggunakan kursi roda tiba-tiba menjadi pusat perhatian bukan karena pencapaiannya, melainkan semata karena kehadirannya. Seseorang dengan kondisi fisik tertentu harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan tidak perlu yang tidak pernah ditujukan kepada orang lain. Keberadaan mereka diperlakukan sebagai pengecualian, bukan sebagai hal yang lumrah.

Di sinilah ableisme bekerja paling efektif: ketika pelakunya tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang salah. Menatap terlalu lama terasa seperti rasa ingin tahu yang wajar. Menghindar terasa seperti pilihan pribadi yang tidak menyakiti siapa pun. Membuat lelucon tentang penampilan seseorang terasa seperti humor biasa. Namun bagi orang yang mengalaminya, akumulasi dari tindakan-tindakan “kecil” itu bisa menjadi beban yang sangat berat untuk ditanggung setiap hari.

Wonder tidak berhenti pada potret diskriminasi. Film ini juga menunjukkan bahwa prasangka bisa berubah, ketika orang bersedia meluangkan waktu untuk benar-benar mengenal seseorang melampaui penampilan fisiknya. Teman-teman Auggie yang mulanya menjaga jarak perlahan menyadari bahwa mereka telah melewatkan seseorang yang cerdas, lucu, dan penuh empati. Perubahan itu tidak datang dari kampanye besar atau ceramah moral, melainkan dari interaksi sederhana dan kesediaan untuk melihat orang lain sebagai manusia seutuhnya.

Pesan ini terasa mendesak di tengah masyarakat yang masih kerap mengukur nilai seseorang dari hal-hal yang paling dangkal. Banyak orang mengira mereka tidak diskriminatif karena tidak pernah melakukan kekerasan. Padahal diskriminasi juga bisa berbentuk ketidakhadiran: tidak mengajak, tidak menyapa, tidak memberi kesempatan yang sama.

Merawat inklusivitas tidak membutuhkan gestur besar. Ia dimulai dari hal-hal kecil: menahan diri untuk tidak menatap, memilih kata-kata dengan lebih hati-hati, atau sekadar memperlakukan seseorang seperti kita ingin diperlakukan—tanpa embel-embel kondisi fisik yang mereka tidak pernah pilih.

Wonder mengingatkan kita bahwa kebaikan bukan soal toleransi. Toleransi hanya berarti kita bersedia membiarkan seseorang ada. Yang dibutuhkan lebih dari itu: pengakuan bahwa perbedaan bukan cacat yang harus dimaklumi, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang seharusnya disambut.

Artikel terkait
Terkini
Follow us