Oleh: Dhea Rahmadani (Mahasiswi Sastra Inggris UNPAM)
Ada kalanya yang memisahkan dua orang bukanlah jarak, bukan pula waktu, melainkan keberanian yang tak pernah lahir. Banyak kisah cinta berakhir bukan karena tidak saling mencintai, tetapi karena terlalu lama menyimpan perasaan, terlalu takut ditolak, atau terlalu sibuk meyakinkan diri bahwa diam adalah pilihan terbaik. Ketika akhirnya keberanian itu datang, sering kali semuanya telah terlambat.
Tema inilah yang diangkat dalam pertunjukan drama Between Red, karya mahasiswa Semester VI Program Studi Sastra Inggris Universitas Pamulang. Alih-alih menghadirkan kisah romansa yang dipenuhi kejutan melodramatis, drama ini memilih jalan yang lebih sunyi: memperlihatkan bagaimana pergulatan batin seseorang dapat menjadi penghalang terbesar bagi kebahagiaannya sendiri.
Dalam teori plot Gustav Freytag, sebuah cerita berkembang melalui lima tahapan, yakni eksposisi, konflik, klimaks, peleraian, dan penyelesaian. Namun, Between Red memperlihatkan bahwa struktur dramatik bukan sekadar urutan peristiwa. Plot menjadi ruang untuk menelusuri perubahan psikologis tokoh, sehingga konflik eksternal justru tampak lebih kecil dibandingkan konflik yang berlangsung di dalam diri manusia.
Tokoh utama, Gwen, diperkenalkan sebagai sosok yang tertutup dan hidup dalam dunia pikirannya sendiri. Pertemuannya kembali dengan Martin, seseorang dari masa lalunya, menjadi pemantik seluruh konflik. Menariknya, perjumpaan mereka berlangsung sangat sederhana, bahkan diawali percakapan yang nyaris biasa. Akan tetapi, justru dari kesederhanaan itulah penonton segera merasakan adanya luka yang belum selesai. Tidak ada ledakan emosi yang dipaksakan. Yang hadir justru keheningan yang sarat makna.
Di sinilah kekuatan utama drama ini. Konflik tidak dibangun melalui tokoh antagonis yang jahat ataupun peristiwa besar yang spektakuler. Antagonis sesungguhnya adalah rasa tidak percaya diri. Gwen terus dihantui keyakinan bahwa dirinya tidak pernah cukup pantas untuk dicintai. Ketika akhirnya ia mengakui bahwa ia mencintai Martin tetapi selalu merasa dirinya tidak cukup baik, penonton menyadari bahwa persoalan utama bukanlah takdir, melainkan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Fenomena tersebut terasa sangat dekat dengan realitas generasi muda hari ini. Di tengah budaya media sosial yang menampilkan kehidupan serba sempurna, banyak orang tumbuh dengan kecenderungan membandingkan diri secara terus-menerus. Standar kecantikan, kesuksesan, bahkan kebahagiaan dibentuk oleh algoritma yang sering kali tidak realistis. Akibatnya, rasa tidak layak menjadi pengalaman yang semakin umum. Banyak hubungan kandas bukan karena kurangnya kasih sayang, tetapi karena individu merasa dirinya tidak cukup berharga untuk menerima kasih sayang itu.
Drama ini juga mengingatkan bahwa komunikasi merupakan fondasi yang sering diabaikan dalam sebuah hubungan. Pertanyaan sederhana, “Apakah kamu pernah mengatakan perasaanmu kepadanya?” menjadi salah satu titik refleksi paling kuat dalam cerita. Pertanyaan itu seolah diarahkan bukan hanya kepada Gwen, tetapi juga kepada para penonton. Berapa banyak hubungan yang gagal bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena tidak pernah ada keberanian untuk mengungkapkannya?
Di tengah dominasi hiburan yang mengandalkan efek visual dan kejutan cerita, Between Red justru memilih membangun kekuatan melalui dialog, ekspresi, dan pergulatan psikologis tokohnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pertunjukan teater kampus mampu menghadirkan karya yang relevan dengan persoalan sosial sekaligus memiliki kedalaman artistik. Drama tidak lagi sekadar menjadi media hiburan, tetapi juga ruang refleksi mengenai kesehatan emosional, penerimaan diri, dan pentingnya komunikasi antarmanusia.
Between Red menawarkan pemahaman bahwa takdir sering kali dijadikan kambing hitam atas kegagalan hubungan. Padahal, yang lebih menentukan adalah keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Sebab, cinta tidak selalu datang terlambat karena waktu berjalan terlalu cepat. Sering kali, cinta terlambat karena manusia terlalu lama hidup dalam ketakutannya sendiri. Itulah pesan yang membuat Between Red melampaui kisah romansa biasa: ia mengingatkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah menemukan seseorang yang mencintai kita, melainkan mampu menerima diri sendiri terlebih dahulu.




